Kenapa Kurma Ajwa Harganya Mahal di Pasaran?
Anda sudah pernah mencicipi kurma ajwa? Kurma yang juga disebut kurma nabi ini termasuk kurma termahal. Di pasaran Indonesia harga kurma favorit Nabi Muhammad SAW ini berkisar mulai Rp120 ribu hingga Rp160 ribu per 1 kilogram untuk yang kualitas premium, sedangkan kurma Royal Ajwa Al Madinah per kilo bisa dijual dengan harga hampir Rp400 ribu. Luar biasa sekali bukan? Lantas, kenapa kurma ajwa bisa dijual mahal di pasaran?
Ajwa merupakan salah satu jenis kurma yang berasal dari Madinah, dikenal sebagai kurma Hijaz yang terbaik dari seluruh jenisnya. Bentuknya bagus, padat, dan agak keras, termasuk kurma yang paling lezat, harum, dan empuk. Biasanya kalau Anda survei ke pasar, dia memiliki harga yang paling tinggi di antara yang lain.[1]
Di Timur Tengah sendiri, kurma memiliki banyak jenis. Dari sekian banyak jenis kurma, Rasulullah SAW sangat gemar mengonsumsi kurma Ajwa. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas RA, “Kurma yang paling disukai Rasulullah SAW adalah Ajwa.”
Kurma Ajwa adalah jenis kurma dari Kota Madinah yang berwarna hitam yang ditanam oleh Rasullah SAW. Kurma jenis ini mempunyai begitu banyak manfaat bagi yang gemar mengonsumsinya; baik itu manfaat medis maupun non medis. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ajwa berasal dari surga dan di dalamnya terdapat obat dari racun, dan daging buahnya manis serta airnya adalah obat untuk mata.”
Syekh al-Manawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan “Ajwa berasal dari surga” adalah bentuk dan namanya saja. Sedangkan, kelezatan rasa dan zatnya tentu berbeda dengan makanan surga.
Rasulullah SAW juga memberikan cara penjagaan dari racun dan sihir, dengan mengonsumsi kurma Ajwa. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqash RA: “Barang siapa mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” Maksud kata “tashabbaha” dalam hadits ini adalah mengonsumsi kurma tersebut sebelum mengonsumsi makanan apapun.[2]
Mengapa Kurma Ajwa Mahal?
Jenis kurma premium yang paling diminati konsumen adalah ajwa. Meski paling mahal, kurma nabi itu tetap paling laris. Konsumen tertarik untuk membeli kurma nabi karena dipercaya paling berkhasiat bagi kesehatan.[3]
Kurma merupakan buah dengan kandungan gula sederhana sebesar 50% yang dapat langsung menjadi energi, tetapi tidak langsung meningkatkan gula darah. Ali Shahib dan Marshall meneliti kurma dan hasilnya, “Kurma bisa diandalkan sebagai makanan paling ideal, memasok banyak nutrisi, dan memberikan manfaat bagi kesehatan.”
Abdul Dayem Al Kaheel menyatakan bahwa kurma dapat meredakan rasa nyeri saat tumbuh gigi pada anak-anak. Kurma memberi ketenangan sehingga baik sebagai konsumsi anak-anak dan usia lanjut. Selain itu, kurma mampu membasmi cacing dan parasit di usus. Anak laki-laki sebelum disunat/dikhitan sebaiknya makan kurma dulu agar pendarahan tidak banyak.
Di Malaysia, kurma populer digunakan untuk mengatasi masalah anak yang kurang cerdas atau prestasi belajar kurang baik. Banyak anak setelah diberi jus kurma setiap hari menjadi lebih mudah diatur dan melakukan tugasnya dengan baik.[4]
Selain itu, makan kurma kabarnya dianjurkan dalam jumlah ganjil. Kenapa demikian? Percaya atau tidak, menyantap kurma dalam bilangan genap (2, 4, 6, dan seterusnya) akan menghasilkan potassium serta gula dalam darah tanpa memberi banyak energi.
Uniknya, apabila kurma dikonsumsi dalam jumlah ganjil (1, 3, 5, dan seterusnya) tubuh bisa mengubahnya menjadi karbohidrat sehingga menambah energi dalam tubuh dan mengembalikan stamina terutama setelah seharian berpuasa.[5]
[1]Sagiran. 2014. Sehat Gaya Rasul: Warisan Nabi yang Terlupakan (hlm 57). Abu E, editor. Jakarta: QultumMedia.
[2]Chodri, AG. 2018. The Mirror of Mohammed (hlm 196-197). Abdul H, editor. Yogyakarta: Laksana.
[3]Apriyanti, RN dkk. 2015. Kurma dari Gurun ke Tropis (hlm 203-204). Jakarta: Trubus Swadaya.
[4]Suparti, S. 2017. 99++ Solusi Medis Herbal dan Holistik Atasi Berbagai Penyakit (hlm 235). Atiatul M, editor. Jakarta: Penebar Plus+
[5]Hernadi, R dkk. 2018. 24 Jam Belajar Sunnah Nabi (hlm 54). Jakarta: WahyuQolbu.



Leave a comment