Kalimat Toxic yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Anak
Keluarga merupakan lembaga sosialisasi utama bagi anak untuk membentuk tingkah laku, watak, moral, dan pendidikan.[1] Sebagai dasar perkembangan dan kehidupan anak, tentunya orang tua diwajibkan mendidik dengan baik dan salah satunya adalah tidak mengucapkan kalimat yang toxic. Pasalnya, kalimat seperti ini bisa merusak perkembangan anak. Apa saja kalimat toxic yang tidak boleh diucapkan kepada anak?
Dilansir dari HuffPost, dalam membesarkan anak, para ahli mengatakan bahwa orang tua tak jarang mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak didengar si kecil dan ini adalah permasalahan umum. Meskipun tidak seharusnya merasa malu atau bersalah tentang hal ini, penting untuk mengetahui dampak dari apa yang baru saja Anda katakan.
Banyak orang tua yang bingung karena anak-anak pandai menyembunyikan perasaan mereka. Beberapa orang tua merasa khawatir apakah kalimat toxic yang pernah diucapkannya membuat si kecil merasa aman dan dicintai atau tidak. Karena, kesalahan verbal sekecil apa pun berdampak besar bagi pola pikir si kecil.
Anak-anak masih memiliki pikiran yang halus dan lembut, tidak seperti orang dewasa. Selain itu, dari segi psikologis, anak-anak juga sangat rentan. Hal ini yang menyebabkan mereka kerap mengalami trauma hanya karena hal-hal kecil. Untuk itu, sebaiknya mulailah menjaga ucapan Anda ketika berdialog dengan anak. Supaya lebih aman, Anda bisa menghindari kalimat toxic berikut.
“Kamu Baik-Baik Saja” atau “Ini Bukan Masalah Besar”
Sangat umum orang tua mengucapkan kalimat “kamu baik-baik saja” atau “ini bukan masalah besar” kepada anaknya yang masih kecil saat menghadapi berbagai macam masalah. Ketika si kecil jatuh misalnya, orang tua biasanya akan mengatakan hal itu dengan tujuan untuk memotivasi anak supaya mereka merasa baik-baik saja dan tidak putus asa untuk belajar berjalan.
Seorang psikolog sekaligus pendiri Mindful Little Minds, Sarah Conway, mengatakan, awalnya itu tidak menjadi masalah dan cukup baik sebagai upaya untuk menenangkan anak. Namun, tidak semua anak seperti itu, khususnya mereka yang berusia di atas golden age (1-5 tahun).
Anak-anak yang sudah cukup besar dan memahami banyak jenis emosi umumnya akan kebingungan, apalagi jika Anda hanya mengatakan dua kalimat tersebut tanpa ada kalimat lainnya. Ini akan membuat mereka cenderung merasa diabaikan. Untuk itu, sebaiknya Anda menghindari dua kalimat tersebut jika anak Anda sudah berusia di atas lima tahun dan coba ganti dengan pertanyaan, seperti “apakah kamu baik-baik saja?” dan “apa yang bisa saya bantu untukmu?”
“Kamu Selalu….” atau “Kamu Tidak Pernah…”
Selain itu, sangat umum para orang tua mengucapkan kalimat “kamu selalu…” atau “kamu tidak pernah…” kepada anak yang kebiasaannya jauh dari standar kehidupan yang Anda tentukan. Bisa dibilang, beberapa orang tua kerap memarahi anaknya dengan dua kalimat itu.
Termasuk toxic, dua kalimat tersebut dikategorikan dalam cara melabeli anak dalam artian negatif. Seorang psikolog sekaligus pendiri The Psychologist’s Child, Kimberly Bennett, menjelaskan, ketika anak mendengar dua ucapan toxic seperti “kamu selalu…” atau “kamu tidak pernah…” maka secara tidak sadar Anda telah memengaruhi alam bawah sadarnya untuk membuat dirinya merasa bersalah.
Setelah timbul rasa bersalah, anak-anak akan cenderung mempercayai perkataan Anda bahwa mereka memang selalu melakukan hal yang salah atau tidak pernah melakukan hal yang benar. Ini membuat mereka mengalami kelambatan dalam berkembang dan terlabeli seperti yang Anda tidak harapkan.
“Itu Membuatku Merasa…. Ketika Kamu Melakukan…”
Conway mengatakan, banyak orang tua percaya bahwa mereka sedang mengajarkan arti empati ketika menggunakan kalimat “itu membuatku merasa… ketika kamu melakukan…” Padahal, ini termasuk contoh kalimat toxic yang membuat anak menjadi haus pembuktian.
Untuk membuat anak selalu terlihat baik, umumnya orang tua akan mengucapkan “itu membuatku bahagia ketika kamu melakukan kebaikan.” Sementara itu, untuk membuat anak jera atas perbuatannya yang dirasa buruk, biasanya orang tua akan mengucapkan “itu membuatku sedih atau marah ketika kamu melakukan keburukan.”
Selain membuat anak menjadi ingin selalu tampil baik di depan orang tuanya, ini juga bisa membuat mereka menjadi bermuka dua. Rata-rata, anak-anak akan selalu menyembunyikan keburukan mereka dan merasa takut ketahuan. Sebagai contoh, adanya kasus pemalsuan tanda tangan oleh siswa atau anak yang suka menyembunyikan nilai ujiannya jika di bawah standar kelulusan.
[1] Makagingge, Meike, Mila Karmila, Anita Chandra. 2019. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Sosial Anak (Studi Kasus pada Anak Usia 3-4 Tahun di KBI Al Madina Sampangan Tahun Ajaran 2017-2018). Yaa Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas PGRI Semarang, Vol. 3(2): 16-122.


Leave a comment