Kandungan Nutrisi & Perbedaan Kabocha vs Labu Kuning

Kabocha vs labu kuning Kabocha vs labu kuning

Labu menjadi salah satu bahan pangan yang mudah diolah menjadi aneka hidangan. Labu sering dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kue, sup, pencuci mulut seperti kolak, pudding, dan masih banyak lagi. Bahkan, sebagian ibu kini banyak yang melirik labu untuk dijadikan menu MPASI bagi sang buah hati. Nah, di pasaran ada dua jenis labu yang kerap Anda temukan, yakni labu kuning vs kabocha. Seperti apa perbedaan antara kedua jenis labu tersebut?

Apa Itu Labu Kuning?

Labu kuning telah lama dikenal dengan beragam nama. Orang Jawa dan Sunda menyebutnya waluh, sedangkan orang Madura menyebutnya labuh. Orang Melayu menyebutnya labu metah, sementara di Inggris dan Amerika populer sebagai pumpkin. Di Prancis disebut sebagai citrouille, di Spanyol dinamakan Calabaza, dan di China dinamakan fan kwa.

Sayuran buah ini berukuran besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua kuning pucat). Beratnya rata-rata 3-5 kg. Untuk labu ukuran besar, beratnya ada yang dapat mencapai 20 kg per buah. Tebal daging buahnya sekitar tiga cm dan rasanya agak manis.

Baca juga:  Ternyata Gampang, Seperti Ini Cara Membuat Petis Hitam Sendiri di Rumah!

Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur). Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima Duchenes, Cucurbita ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L. Kelima spesies cucurbita tersebut di Indonesia disebut labu kuning (waluh) karena mempunyai ciri-ciri yang hampir sama.

Labu kuning awalnya diperkirakan berasal dari Peru atau Meksiko, Amerika Tengah. Di kalangan pendatang baru benua Amerika, dulu labu kuning sangat populer untuk diolah menjadi sup, pai, dan bir. Labu kuning pun dapat dijadikan sumber makanan cadangan untuk dipergunakan selama musim dingin, selain juga bisa diukir untuk dipajang saat merayakan Haloween. Di Indonesia sendiri, buah labu kuning mudah biasa dijadikan campuran sayur, sementara yang tua diolah menjadi kolak, kue talam, cake, dll.[1]

Jika sudah dimasak labu kuning teksturnya lunak, baik untuk makanan bayi. Labu kuning bisa diganti dengan labu Jepang/kabocha. Labu kuning dikenal dengan sebutan labu parang. Kaya akan vitamin dan mineral. Setiap 100 gram labu kuning mengandung vitamin A 29.030 IU, vitamin C 23 mg, magnesium 66 mg, kalsium 113 mg, fosfor 118 mg, zat besi 1,8 mg, sodium 9 mg, dan potasium 1.089 mg.[2]

Baca juga:  Berbagai Macam Sajian Kolak Khas Indonesia

Apa Itu Kabocha?

Ada dua jenis kabocha, labu kuning khas Jepang, yaitu berkulit oranye (daging buahnya berwarna oranye) dan berkulit hijau (daging buahnya berwarna krem kehijauan pucat). Kabocha rasanya lebih gurih, lebih pulen, dibandingkan labu parang lokal yang lebih banyak mengandung air. Kabocha enak dibuat sup krim, dibuat pure, atau dipanggang begitu saja. Pilih yang buahnya keras dan mulus.[3]

Kandungan nutrisi dalam kabocha kabarnya baik untuk kesehatan. Dalam satu cangkir penyajian kabocha diklaim mengandung 30 kalori yang sebagian besar berasal dari karbohidrat (terdapat 7 gram karbohidrat dalam secangkir kabocha). Kemudian, kabocha juga mengandung 10.707 IU vitamin A, 5.726 mcg betakaroten, 20 mg vitamin C, dan masih banyak lagi.

Perbedaan Kabocha vs Labu Kuning

Jika dilihat sekilas memang agak sulit menemukan perbedaan antara kabocha vs labu kuning. Namun, umumnya ukuran kabocha lebih mungil dibanding labu parang kuning. Kemudian, kabocha juga memiliki rasa yang lebih manis dan warna oranye yang lebih terang, sehingga kini banyak dimanfaatkan untuk membuat makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi.

Baca juga:  Sulit Cari Baking Powder Double Acting? Ini Bahan Pengganti yang Bisa Anda Coba

Lantaran berasal dari rumpun tanaman yang sama, kandungan gizi antara kabocha dan labu kuning sebenarnya tak jauh berbeda. Namun, kabocha rupanya memiliki kandungan betakaroten yang lebih banyak dibanding labu kuning.Baik labu kuning maupun kabocha bisa dengan mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional maupun supermarket dengan harga yang tak terlalu mahal.

[1]Krisnawati, I. 2009. Olahan Labu Kuning Untuk Bayi Dan Balita. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm 6.

[2]Sutomo, B &Dwi YA. 2010. Makanan Sehat Pendamping ASI. Jakarta: Demedia, hlm 61.

[3] Gunawan, AW. 2009. Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi Untuk Langsing Dan Sehat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm 178.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*