Kelebihan Homeschooling Mandiri di Rumah, Mulai dari Fleksibel Hingga Bikin Anak Bebas Berekspresi
Homeschooling termasuk model pendidikan yang digunakan sebagai alternatif institusi sekolah. Homeschooling bukanlah lawan dari pendidikan formal dan juga bukanlah cara untuk melarang anak bersekolah di sekolah formal, namun alternatif ini diharapkan dapat membantu apa yang dianggap kurang yang ada di sekolah formal.[1] Selain dilakukan secara berkelompok di sebuah lembaga atau tempat, homeschooling pun bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
Homeschooling terdiri atas tiga jenis, yaitu homeschooling tunggal, homeschooling majemuk, dan homeschooling komunitas. Menurut data yang dihimpun oleh Direktorat Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional, ada sekitar 600 peserta homeschooling di Indonesia. Sebanyak 83,3% atau sekitar 500 orang mengikuti homeschooling majemuk atau komunitas. Sedangkan sebanyak 16,7% atau sekitar 100 orang mengikuti homeschooling tunggal.
Jenis Homeschooling
Homeschooling Tunggal
Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilakukan oleh orang tua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan yang lainnya. Homeschooling jenis ini diterapkan karena adanya tujuan atau alasan khusus yang tidak dapat diketahui atau dikompromikan dengan komunitas homeschooling lain. Alasan lain adalah karena lokasi atau tempat tinggal pelaku homeschooling yang tidak mungkin berhubungan dengan komunitas homeschooling lain. Artinya homeschooling tunggal memunyai fleksibilitast inggi. Tempat, bentuk, dan waktu belajar bisa disepakati oleh pengajar dan peserta didik. Kelemahannya adalah tidak adanya mitra untuk saling mendukung, berbagi, atau membandingkan keberhasilan dalam proses belajar. Jika tidak di-mix dengan tipe homeschooling lainnya, anak pun cenderung kesulitan bersosialisasi dan berekspresi sebagai syarat pendewasaan.
Homeschooling Majemuk
Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing- masing. Alasannya, terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Format sekolah rumah ini memberikan kemungkinan pada keluarga untuk saling bertukar pengalaman dan sumber daya yang dimiliki oleh setiap keluarga. Selain itu juga dapat menambah sosialisasi sebaya (horizontal socialization) dalam kegiatan bersama diantara anak-anak homeschooling. Tantangan terbesar dari homeschooling format ini adalah mencari titik temu dan kompromi atas hal-hal yang disepakati di antara para anggota homeschooling majemuk ini. Karenatidak ada keterkaitan struktural, kegiatan-kegiatan yang ada bersifat kontraktual atau kesepakatan antar keluarga homeschooling.
Komunitas Homeschooling
Komunitas homeschooling adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olahraga, musik/seni, dan bahasa), sarana prasarana dan jadwal pembelajaran. Alasan memilih komunitas homeschooling antara lain: Terstruktur dan lebih lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia, dan pencapaian hasil belajar; Tersedia pembelajaran yang baik,misalnya bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/bahasa, auditorium, fasilitas olah raga dan kesenian; Ruang gerak sosialisasi peserta didik lebih luas tetapi dapat dikendalikan; Dukungan lebih besar karena masing-masing bertanggung jawab untuk saling mengajar sesuai dengan kemampuannya masing- masing; Sesuai untuk anak usia di atas sepuluh tahun; dan Menggabungkan keluarga tinggal berjauhan melalui internet dan alat informasi-komunikasi lainnya untuk tolak banding.[2]
Dari beberapa jenis homeschooling tersebut, homeschooling tunggal atau mandiri di rumah memang sudah banyak dilirik oleh para orang tua. Dilansir dari Homeschooling Mayantara, homeschooling mandiri pada dasarnya merupakan bentuk homeschooling tunggal yang dilaksanakan oleh sebuah keluarga. Hanya saja dalam model sekolah rumah ini semua hal sudah dirancang dan direncanakan dengan matang dengan orang tua sebagai penanggung jawab utama, termasuk dalam menentukan kurikulum hingga mengundang guru atau tutor untuk mengajar anak-anak di rumah.
Kelebihan Homeschooling Mandiri
Homeschooling mandiri pun menawarkan beragam keunggulan, mulai dari segi biaya pendidikan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, waktu kegiatan pembelajaran yang bersifat fleksibel, mampu membantu anak untuk lebih mengembangkan bakat dan minat, serta mendorong anak untuk lebih mudah berekspresi.
Untuk pembelajaran, keluarga homeschooling dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di dunia nyata, seperti fasilitas pendidikan, fasilitas umum, fasilitas sosial, maupun fasilitas bisnis. Selain itu, keluarga homeschooling dapat menggunakan guru privat, tutor, mendaftarkan anak pada kursus atau klub hobi, dan sebagainya. Internet dan teknologi audio visual yang semakin berkembang juga merupakan sarana belajar yang biasa digunakan oleh keluarga homeschooling.[3]
[1]Zainiyati, HS dkk. 2020. Pendidikan Profetik: Aktualisasi & Internalisasi dalam Pembentukan Karakter. Muhamad BM, editor. Kuningan: Goresan Pena, hlm 47.
[2]Dedi dkk. 2021. Homeschooling Di Masa Pandemi: Sebuah Tinjauan Dalam Pendidikan Islam. Jurnal Madaniyah. 11(2): 163-180.
[3]Sumardiono. 2007. Homeschooling: Lompatan Cara Belajar. Jakarta: Elex Media Komputindo, hlm 6.



Leave a comment