PTSD Akibat Pandemi, Apa Saja Gejalanya?

Ilustrasi: tenaga kesehatan (sumber: wvlt.tv) Ilustrasi: tenaga kesehatan (sumber: wvlt.tv)

PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) merupakan salah satu gangguan mental yang umum di masyarakat dan bisa diakibatkan banyak faktor. Salah satu penyebab PTSD yang mungkin jarang ditemui adalah pandemi. Berbeda dengan PTSD dengan penyebab lain, PTSD akibat pandemi memiliki tanda-tanda atau gejala khusus yang umumnya tidak disadari penderitanya.

Pandemi Bisa Memicu PTSD

Dilansir dari Liputan 6, sekitar 80% orang akan mengalami gangguan mental dan akan pulih dalam beberapa bulan, tetapi 10% di antaranya akan mengalami gangguan stres pasca-trauma/PTSD. Bisa dibilang, gangguan mental ringan selama pandemi bisa berkembang menjadi PTSD pada beberapa orang.

PTSD sendiri adalah gangguan mental dari trauma akut. Trauma bersumber pada pengalaman traumatik yang terjadi di luar kendali seseorang, mengancam kehidupan, mengakibatkan rasa takut, membuat tidak berdaya, dan meneror kehidupan penderitanya. Tak hanya itu, pada pasien PTSD kronis, ada perasaan bahwa dirinya sedang terancam dan bisa terluka atau kehilangan nyawa.

Dilansir dari HuffPost, trauma pada penderita PTSD juga bisa berasal dari pandemi. Selama masa sulit ini, banyak orang yang mengalami kehilangan dan kesedihan. Beberapa ada yang kehilangan pekerjaan, kehilangan identitas, kehilangan rasa percaya diri, dan tidak merasa aman secara finansial.

Baca juga:  Tanda-Tanda PCOS yang Tidak Disadari Banyak Wanita

Seorang asisten profesor di Case Western Reserve University, Jenifer King, mengatakan, terdapat bukti dari penelitian yang telah dilakukan bahwa pandemi menyebabkan ketakutan, stres, rasa mengisolasi diri, dan kesedihan. Hal-hal yang berkaitan dengan emosi seperti inilah yang memicu PTSD dengan gejala ringan.

Studi tersebut juga melaporkan, 85% partisipan mengalami setidaknya satu gejala stres PTSD pada tahun 2020 dan awal tahun 2021. Penelitian lain menemukan, sekitar seperempat peserta studi mengalami PTSD dengan tingkat empat kali lebih tinggi daripada tingkat PTSD yang diamati pada tentara tempur yang telah kembali dari perang.

Ilustrasi: data kasus COVID-19 di dunia (pexels: Atypeek)

Ilustrasi: data kasus COVID-19 di dunia (pexels: Atypeek)

Gejala PTSD Akibat Pandemi

  • Sering was-was. Salah satu gejala PTSD akibat pandemi yang sangat menonjol adalah kewaspadaan yang berlebihan. Setelah peristiwa traumatis terjadi, penderita PTSD cenderung mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Hal ini membuat mereka sering merasa was-was dan kadang bisa memicu rasa takut.
  • Sulit berkonsentrasi. Terlalu memikirkan sesuatu yang membuat cemas, membuat beberapa orang merasa sulit berkonsentrasi dan fokus. Hal ini karena semua energi yang tersimpan di dalam tubuh habis untuk mengatasi rasa cemas, sehingga tidak ada energi yang tersisa untuk berpikir.
  • Selalu gelisah. Hal-hal kecil yang sepele bisa membuat orang dengan PTSD akibat pandemi merasa gelisah. Beberapa orang yang perfeksionis bahkan merasa gelisah hanya karena letak gelas yang miring atau pajangan dinding yang kurang presisi. Jika Anda mulai mengalami gejala PTSD seperti ini, Anda dianjurkan segera berkonsultasi dengan psikolog.
  • Lelah fisik dan emosional. Perbedaan mencolok antara PTSD akibat pandemi dan bukan adalah perasaan lelah. Pasien PTSD yang hanya mengalami kelelahan fisik atau emosional bukan termasuk orang yang mengidap PTSD akibat pandemi, sedangkan pasien PTSD yang mengalami dua bentuk lelah tersebut bisa dipastikan mengidap PTSD akibat pandemi. Hal ini karena tresor traumatis yang ekstrem sedang berlangsung secara intens.
  • Mudah lelah. Saat pandemi, tubuh kita mau tidak mau harus berganti mode menjadi petarung andal untuk menghadapi tekanan yang ada dan ini yang menyebabkan energi cepat terkuras. Selain itu, sistem stres di dalam tubuh juga diaktifkan dengan paksa supaya lebih waspada dengan keadaan saat dan setelah pandemi. Pengaktifan stres dalam tubuh juga memerlukan banyak energi.
  • Negative thinking berlebihan. Trauma yang dirasakan penderita PTSD akibat pandemi umumnya mengarah pada pemikiran negatif yang mengganggu. Hampir setiap saat, mereka tidak bisa berhenti untuk negative thinking, bahkan dengan hal yang positif untuk dirinya. Selain itu, penderita PTSD ini akan merasa kesulitan melihat masa depan yang positif atau cerah.
  • Mudah sakit. PTSD akibat pandemi yang berlangsung lama dan kronis bisa memengaruhi kesehatan fisik. Seiring waktu, stres dan trauma juga bisa menurunkan fungsi kekebalan tubuh, diiringi peningkatan stres dan rasa nyeri di seluruh tubuh.
Baca juga:  Rekomendasi Merk dan Varian Cushion untuk Kulit Sensitif

Jika Anda mengalami gejala PTSD akibat pandemi seperti di atas, Anda bisa melakukan beberapa treatment kesehatan untuk meredakannya, seperti terapi dan meditasi. Untuk menentukan jenis terapi dan meditasi yang cocok, Anda perlu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*