Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati Pityriasis Rosea
Apakah Anda memiliki ruam yang sangat gatal di kulit? Jika iya, bisa jadi ini adalah gejala awal dari penyakit kulit Pityriasis Rosea. Memang penyakit ini tidak umum dan hanya sedikit yang mengalaminya, tetapi cukup fatal jika tidak segera diobati. Cara mengobati penyakit ini tidaklah mudah, karena harus mengetahui penyebabnya terlebih dahulu.
Penyebab Pityriasis Rosea
Pityriasis Rosea (PR) termasuk penyakit kulit golongan papuloskuamosa tipe plak yang gejalanya tidak khas dan terbilang sulit dibedakan dengan penyakit inflamasi kulit lainnya.[1] Dilansir dari allure, PR juga dikenal dengan penyakit ruam inflamasi jinak yang dimulai dengan munculnya ruam kemerahan tunggal. Ruam yang dikenal dengan nama herald patch ini bisa berkembang menjadi ruam yang lebih besar dalam beberapa hari hingga minggu kemudian.
Dokter kulit dari Universitas Boston mengatakan, PR dapat menyebar ke seluruh tubuh, tetapi biasanya lebih umum ditemukan di bahu, lengan atas, dan paha. Untuk tingkat ekstrem, PR bisa muncul di ujung kepala dan ujung kaki. Kasus seperti ini terbilang jarang dan jika ada, maka harus dilakukan pengobatan khusus.
Tak hanya berkembang menjadi benjolan agak besar, PR bisa berubah menjadi bintik-bintik seperti jerawat yang bisa meletus kapan saja. PR seperti ini cukup umum dan terbilang ringan, karena bisa sembuh dengan sendirinya. Pengobatan bisa dilakukan sekitar 6 hingga 8 minggu hingga bekasnya hilang. Pada beberapa kasus yang kronis dan jarang ditemukan, PR seperti ini bisa memakan waktu hingga tiga bulan dan ini cenderung terjadi pada pasien berusia 10 tahun hingga 35 tahun.
Seorang dokter kulit asal New York bernama Hadley King mengatakan, secara umum, pasien yang pernah mengalami PR tidak akan mengalaminya lagi. Namun, sebuah penelitian menjelaskan bahwa 2% hingga 3% dari 100% orang bisa mengalaminya kembali.
Meskipun belum ada penyebab tunggal yang diketahui, PR dapat dikaitkan dengan reaktivitas virus herpes enam dan tujuh (HHV-6 dan HHV-7). Virus inilah yang menyebabkan ruam primer terkait gejala PR. Tak hanya itu, beberapa orang mengalami PR akibat vaksin virus influenza.
Baru-baru ini, International Journal of Dermatology menjelaskan kasus PR yang berhubungan dengan pemberian vaksin mRNA COVID-19. Ada beberapa data yang menjelaskan PR dapat muncul akibat pemberian vaksin COVID-19, tetapi ini belum diteliti lebih lanjut. Menurut dokter kulit, PR akibat pemberian vaksin juga bisa muncul karena stres atau kondisi tubuh yang sedang tidak baik.
Gejala Pityriasis Rosea
Selain ruam, gejala PR secara umum adalah rasa gatal. Jika Anda mengalami PR, sebaiknya Anda tidak menggaruknya, karena bisa berujung pada pengelupasan kulit. Ruam pada PR berbeda dengan inflamasi kulit pada umumnya, yakni tidak melepuh dan tidak berdarah. Tak hanya itu, PR yang sudah sembuh atau mengering akan meninggalkan bekas berwarna hitam.
Hiperpigmentasi akibat PR sekilas mirip dengan flek atau noda bekas jerawat. Anda tidak perlu khawatir, karena bekas PR bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu singkat. Namun, jika Anda menggaruknya, kemungkinan besar bekasnya bisa menahun atau bersifat permanen. Beberapa orang mencoba menggunakan skincare dengan bahan pemutih untuk menghilangkannya dan ini terbilang cukup efektif.
Cara Mengobati Pityriasis Rosea
PR ringan dengan gejala ruam ini sebenarnya tidak perlu diobati, karena bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, dalam kasus yang serius, biasanya dokter akan menganjurkan Anda untuk terapi kortikosteroid topikal. Ini adalah obat oles yang harus dipakai secara rutin untuk mengontrol rasa gatal. Perawatan lain yang bisa Anda lakukan untuk menghilangkan PR dan bekasnya adalah fototerapi dan obat oral seperti asiklovir dan eritromisin.
Menurut dermatolog bernama Macrene Alexiades, pasien dengan penyakit PR dianjurkan merawat kulitnya supaya penyakit tidak berkembang. Perawatan kulit ini berupa mandi dingin dengan sabun khusus. Tidak disarankan untuk mandi air hangat atau panas, karena air yang bercampur keringat bisa meningkatkan rasa gatal. Selain itu, pasien tidak diperbolehkan mandi dengan sabun biasa, karena bisa mengiritasi kulit dan meningkatkan lesi. Khusus untuk pasien yang mudah berkeringat, biasanya dokter menganjurkan untuk tidak beraktivitas berat seperti berolahraga. Keringat juga bisa berdampak buruk pada PR dan meningkatkan rasa gatalnya.
[1] Alinda, Medhi Denisa, Marsudi Hutomo, Trisniartami Setyaningrum. 2014. Dermoskop Membantu Diagnosis Kelainan Kulit Papuloskuamosa. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Universitas Airlangga, Vol. 26(3): 168-174.


Leave a comment