Perubahan Gaya Hidup Turunkan Risiko GERD

Ilustrasi: pola makan bernutrisi Ilustrasi: pola makan bernutrisi

GERD (Gastroesophageal Refluks Disease) merupakan gangguan ketika isi lambung mengalami refluks secara berulang ke dalam esofagus, sehingga muncul gejala atau komplikasi.[1] Penyakit ini tergolong susah diobati dan daripada mengobatinya, lebih baik jika Anda mencegahnya dengan cara mengubah gaya hidup Anda. Ada beberapa faktor yang diklaim mampu menurunkan risiko GERD dan ini perlu Anda aplikasikan selama belajar mengatur pola hidup menjadi lebih sehat.

Efek Samping Pengobatan GERD

Dilansir dari Harvard Health Publishing, GERD termasuk kondisi umum ketika isi lambung naik ke kerongkongan. Kondisi ini setidaknya memengaruhi sekitar satu dari lima orang di dunia dan umumnya menyebabkan mulas, regurgitasi, dan kesulitan menelan. Terlepas dari efektivitas obat yang dipakai untuk GERD, ada kekhawatiran tentang penggunaan jangka panjang. Sehingga, solusi terbaiknya adalah dengan mengubah gaya hidup.

Masih dari sumber yang sama, andalan obat untuk mengatasi GERD adalah jenis obat inhibitor pompa proton (PPI), termasuk esomeprazole (Nexium) dan omeprazole (Prilosec). Obat jenis ini memiliki fungsi sebagai penghalang pompa asam yang terletak di sel penghasil asam lambung utama, sekaligus mengurangi produksi asam lambung yang berlebihan.

Ilustrasi: organ lambung (sumber: nyulangone.org)

Ilustrasi: organ lambung (sumber: nyulangone.org)

Tak hanya itu, antagonis reseptor H2, seperti famotidine (Pepcid) atau cimetidine (Tagamet), juga biasa digunakan pasien penderita GERD. Obat ini memiliki indikasi untuk memblokir reseptor histamin pada sel penghasil asam lambung, mengurangi produksi asam lambung, dan menetralkan keasaman isi lambung.

Baca juga:  Terpengaruh Berita Kesehatan yang Salah, Ini Efeknya Bagi Tubuh

Meskipun terapi obat-obatan seperti ini terbilang efisien, beberapa ahli merasa khawatir dengan efek samping jangka panjang yang ditimbulkan obat. PPI yang dipakai secara terus-menerus bisa menyebabkan demensia, penyakit ginjal, osteoporosis, infeksi tertentu, dan gangguan penyerapan vitamin serta mineral tertentu.

Kekhawatiran atas penggunaan obat untuk GERD telah meningkatkan minat pada perubahan gaya hidup yang dapat membantu dalam mengelola penyakit tersebut. Banyak pedoman gaya hidup yang direkomendasikan untuk mencegah dan mengobati GERD.

Pedoman Gaya Hidup Cegah dan Obati GERD

  • Menjaga agar berat badan selalu normal dengan indeks massa tubuh antara 18,5 hingga 25.
  • Tidak merokok (rokok konvensional maupun elektrik).
  • Melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat secara rutin, setidaknya 30 menit setiap hari.
  • Tidak minum lebih dari dua cangkir teh, kopi, dan soda setiap hari.
  • Diet sehat dengan asupan berupa buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, dan unggas.
Baca juga:  Pengertian Dispareunia, Penyebab & Cara Mengobati

Dilansir dari helloSEHAT, faktor gaya hidup di atas ternyata berkebalikan dengan kebiasaan orang-orang yang memiliki risiko GERD tinggi. Beberapa orang dengan pola hidup tidak sehat, antara lain tidak bisa menjaga berat badannya dan terlanjur obesitas, sering minum alkohol, dan perokok aktif, rentan terhadap GERD.

Ilustrasi: olahraga jogging

Ilustrasi: olahraga jogging

Studi dalam Harvard Health Publishing menunjukkan masing-masing dari lima faktor ini secara efektif mampu menurunkan risiko pengembangan GERD. Dari lima faktor gaya hidup, menjaga berat badan agar normal dikaitkan dengan penurunan terbesar kemungkinan mengembangkan GERD, sementara tidak pernah merokok dikaitkan dengan penurunan terkecil. Berdasarkan hasil penelitian ini, individu yang memenuhi kelima faktor tersebut memiliki kemungkinan setengah untuk mengembangkan GERD selama 10 tahun berikutnya dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti salah satu faktor tersebut.

Studi ini menambah semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa intervensi gaya hidup memainkan peran penting dalam mencegah GERD. Intervensi gaya hidup yang diperiksa dalam penelitian terbaru ini sudah umum disarankan oleh dokter dan para ahli untuk pasien pengidap GERD dan orang yang berisiko tinggi terhadap GERD dan kardiovaskular.

Baca juga:  Jaga Kesehatan, Ini Makanan Terbaik Berdasarkan Usia

Sebagai tambahan, GERD tidak bisa dideteksi secara fisik hanya melalui gejalanya. Sehingga, Anda harus memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit. Pengecekan kondisi kesehatan seperti ini sangat penting untuk mengetahui seberapa berisikonya Anda terhadap penyakit tersebut.

Ada beberapa pilihan prosedur medis yang harus Anda jalani untuk mengetahui apakah Anda terkena GERD atau tidak, yakni melakukan endoskopi, esophageal manometry, pengukuran pH esofagus, dan tes pencitraan (X-Ray). Jika Anda merasa bingung dengan pilihan tersebut, berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan tindakan medis yang paling tepat. Tidak semua pasien akan mendapatkan rekomendasi yang sama terkait skrining GERD dengan metode-metode ini.

[1] Radjamin, Irvinia Septarizka Putri, Iswan Abbas Nusi, Viskasari Pintoko Kalanjati. 2019. Profil Penderita Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) dan Non-Erosive Reflux Disease (NERD) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Majalah Biomorfologi Universitas Airlangga, Vol. 29(1): 13-18.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*