Benarkah Flavonoid Bisa Tingkatkan Memori Otak?
Buah-buahan dan sayuran berwarna sering dikonsumsi untuk diet. Namun, tahukah Anda bahwa warna-warna pada makanan tersebut secara umum berasal dari flavonoid? Zat itu tampaknya tidak hanya membuat diet Anda menjadi lebih berwarna, tetapi juga memiliki banyak manfaat, salah satunya diklaim mampu meningkatkan memori. Benarkah demikian?
Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan dengan 15 atom karbon dan sebagai zat antioksidan dengan fungsi utama untuk menangkal radikal bebas.[1] Dilansir dari Harvard Health Publishing, flavonoid juga disebut sebagai zat fitokimia, yakni bahan kimia tanaman yang berkontribusi pada banyak aspek dalam bidang kesehatan.
Sebuah penelitian besar yang dilakukan Universitas Harvard dan diterbitkan secara online di Neurology pada July 2021 menunjukkan bahwa flavonoid mungkin juga berperan dalam melindungi kognisi. Kognisi adalah proses untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang dilakukan otak dan tubuh.
Dalam uji coba ini, para ilmuwan mengevaluasi data kesehatan para peserta. Tak hanya itu, mereka juga menganalisis informasi diet yang dilaporkan. Jumlah peserta yang mengikuti penelitian ini sebanyak 77.000 orang, yang terdiri dari pria dan wanita paruh baya. Informasi yang dibutuhkan untuk eksperimen ini telah dikumpulkan selama 20 tahun, termasuk seberapa sering peserta makan makanan yang kaya flavonoid dan apakah peserta mengalami perubahan kognisi atau tidak saat usianya 70-an, dan berikut adalah perubahan kognisi yang umum dialami orang berusia 70-an.
Gangguan Kognisi
- Kesulitan mengingat kejadian baru-baru ini.
- Kesulitan mengingat sesuatu dari satu detik ke detik berikutnya.
- Kesulitan memahami instruksi.
- Kesulitan mengikuti percakapan grup atau plot TV.
- Kesulitan menemukan jalan mereka di sekitar jalan-jalan yang sudah dikenal.
Setelah mengetahui perubahan kognisi yang umum terjadi di antara peserta, para ahli kemudian menghitung asupan peserta yang dibagi menjadi enam kelas flavonoid. Flavonoid ini dibedakan menjadi flavonol, flavon, flavonon, flavan-3-ol monomer, anthocyanin, dan polimer. Semua ini bisa ditemukan dari diet para peserta.
Apa Hasil Penelitian?
Setelah memperhitungkan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kognisi (seperti usia, berat badan, aktivitas fisik, asupan alkohol, depresi, dan asupan nutrisi non-flavonoid), para ilmuwan menemukan bahwa orang dengan asupan flavonoid harian tertinggi 19%, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gangguan kognisi secara memori dan pemikiran dibandingkan dengan orang dengan asupan flavonoid harian terendah.
Seorang profesor epidemiologi dan nutrisi, Walter Willett, yang ikut dalam penelitian tersebut mengatakan, hasil uji coba ini sangat menarik karena mampu menunjukkan bahwa makanan tinggi flavonoid dapat mencegah penurunan memori. Hal inilah yang membuat kognisi para peserta dengan diet flavonoid tinggi memiliki risiko penurunan memori yang kecil.
Penulis utama penelitian ini, Tian-Shin Yeh menambahkan, mengonsumsi makanan tinggi flavonoid juga mampu meningkatkan efek perlindungan pada otak. Tak hanya itu, peserta yang mulai mengonsumsi makanan flavonoid lebih banyak daripada peserta lainnya mampu mencegah pikun di kemudian hari.
Studi tersebut memang hanya observasional, mengandalkan apa yang orang ingat tentang diet mereka dan memperhatikan tentang kognisi, dan tidak membuktikan secara meyakinkan bahwa asupan flavonoid membuat orang tetap tajam di usia yang lebih tua (lebih dari 70-an tahun). Namun, penelitian yang lebih kecil atau jangka pendek juga menemukan hubungan antara flavonoid dan manfaat kesehatan kognitif. Dalam uji coba tersebut, diketahui flavon dikaitkan 38%, flavonon 36%, dan antosianin 24% lebih rendah untuk penurunan kognitif.
Studi memang belum bisa menunjukkan alasan yang pasti mengapa flavonoid bisa berperan dalam melindungi kognisi. Namun, seperti yang kita ketahui, flavonoid merupakan antioksidan kuat yang dapat melawan peradangan otak dan akumulasi amiloid sebagai faktor penyakit alzheimer. Manfaat lainnya adalah meningkatkan produksi faktor neurotropik, memperbaiki sel-sel otak, memperkuat koneksi antar jaringan otak, memperbesar ukuran hippocampus, serta memerangi peradangan dan pertumbuhan tumor.
Dengan potensi manfaat flavonoid ini, mungkin Anda bertanya-tanya seberapa banyak jumlah makanan mengandung flavonoid yang harus dikonsumsi. Dalam penelitian ini, asupan flavonoid yang diperlukan tubuh berkisar 150 mg hingg 620 mg per hari. Untuk mendapatkannya, cukup konsumsi makanan yang sehat dan banyak terbuat dari sayur serta buah. Semakin beragam sayur dan buah yang Anda konsumsi, semakin baik, karena semakin banyak mengandung kombinasi flavonoid.
[1] Ni’mah, Yuni Mahfirothun. 2020. Penentuan Kadar Senyawa Flavonoid Ekstrak Kombinasi Buah Anggur, Tin, Delima, dan Zaitun Menggunakan Analisis Spektrofotometer UV-Vis (Skripsi). Program Studi Biologi Fakultas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.


Leave a comment