Diet Pengaruhi Mikrobioma dan Penyakit dalam Tubuh
Diet menjadi salah satu cara yang diklaim ampuh untuk menurunkan berat badan. Namun, pola makan dan asupan selama diet ternyata dapat memengaruhi mikrobioma dalam tubuh Anda. Diketahui, jika mikrobioma terlalu banyak atau sedikit, bisa menyebabkan penyakit atau membuat beberapa macam penyakit dalam tubuh Anda kambuh.
Mikrobioma adalah seluruh mikroba yang hidup dalam tubuh manusia, hewan, serta tumbuhan, dan diketahui hampir sebagian besar tubuh manusia terdiri atas mikrobioma.[1] Dilansir dari Harvard Health Publishing, mikrobioma terdiri dari gen organisme kecil (bakteri, virus, dan mikroba lain) yang ditemukan di saluran pencernaan, terutama usus kecil dan besar. Flora usus normal adalah istilah lain yang dipakai untuk menjelaskan keberadaan mikrobioma dalam tubuh. Mikrobioma dalam usus bertugas melindungi inang (manusia) dari penyakit.
Diet Menentukan Tingginya Risiko Penyakit
Supaya kesehatan tubuh, termasuk pencernaan, tetap sehat, Anda harus menjaga mikrobioma dalam tubuh tetap seimbang dengan spesies positif yang lebih mendominasi. Sebenarnya, para ilmuwan belum sepenuhnya menjelaskan tentang faktor mikrobioma yang menjadi risiko berkembangnya penyakit kronis. Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Medicine menjelaskan bagaimana diet bisa memengaruhi mikrobioma yang menjadi cikal bakal tingginya risiko penyakit dalam tubuh.
Dalam uji coba tersebut, para ahli meneliti lebih dari 1.100 orang yang terdaftar pada PREDISC 1, yakni sebuah program percobaan yang mengamati tanggapan individu terhadap diet. Mereka menggunakan teknik yang disebut urutan metagenomik untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, mengukur, dan menganalisis materi genetik dari mikrobioma peserta studi.
Para ahli juga mengumpulkan informasi asupan makanan jangka panjang yang terperinci dari semua individu ini, sehingga mereka dapat menganalisis pola diet mereka, termasuk asupan berbagai kelompok nutrisi. Penelitian dilanjutkan dengan mengumpulkan informasi dari peserta uji coba tentang berbagai faktor yang diketahui memengaruhi metabolisme dan risiko penyakit, termasuk pengukuran gula darah (glukosa), kolesterol, dan peradangan sebelum dan sesudah makan. Komponen kesehatan pribadi peserta seperti usia, berat badan, indeks massa tubuh (BMI), dan tekanan darah juga diteliti.
Studi tersebut menemukan bahwa kesehatan mikrobioma dipengaruhi asupan selama diet dan komposisi mikrobioma memengaruhi risiko hasil kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroba usus spesifik dikaitkan dengan nutrisi tertentu, makanan, kelompok nutrisi, dan komposisi makanan secara keseluruhan. Kondisi kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, dan peradangan umum tampaknya paling dipengaruhi oleh perubahan mikrobioma yang dipengaruhi diet.
Sebagai contoh, diet yang kurang sehat (makanan penutup dari susu, daging yang tidak sehat, makanan olahan) mendukung spesies usus yang terkait dengan pengukuran gula darah, kolesterol, dan peradangan. Hal ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan diabetes. Jika individu sudah memiliki penyakit ini, maka bisa meningkatkan risiko kambuh.
Sebaliknya, mikrobioma usus yang lebih beragam dikaitkan dengan diet sehat (sayuran berserat tinggi seperti bayam dan brokoli, kacang-kacangan, dan makanan hewani yang sehat seperti ikan serta telur), dapat menurunkan risiko penyakit tertentu. Selain itu, studi tersebut menemukan bahwa lemak tak jenuh ganda (ditemukan pada ikan, kenari, labu, biji rami dan chia, bunga matahari, safflower, dan minyak kedelai tak terhidrogenasi) menghasilkan spesies usus sehat yang terkait dengan penurunan risiko penyakit kronis.
Tips Merawat Mikrobioma
- Konsumsilah lebih banyak makanan nabati yang belum diolah seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan biji-bijian untuk meningkatkan perkembangan mikrobioma positif atau baik di tubuh Anda. Ini juga akan menurunkan risiko penyakit kronis di tubuh Anda.
- Konsumsilah protein hewani, seperti ikan dan telur, serta hindari makanan hewani tertentu, seperti daging merah, makanan olahan susu, dan makanan yang diproses (makanan nabati olahan seperti saus, kacang panggang, jus, atau minuman dan makanan penutup yang dimaniskan dengan gula). Ini bertujuan untuk mencegah bakteri tidak sehat menjelajahi usus Anda, sehingga menciptakan ketidakseimbangan mikrobioma usus dan meningkatkan risiko penyakit kronis.
- Lebih banyak mengonsumsi makanan nabati yang diproses seminimal mungkin untuk menjaga perkembangan mikrobioma usus sekaligus memberi perlindungan terhadapnya. Hal ini diketahui ampuh mengurangi risiko penyakit kronis seperti jantung koroner dan obesitas.
Selain itu, Anda perlu memperhatikan kualitas bahan makanan yang Anda konsumsi. Kualitas jenis pangan tidak hanya dilihat dari kandungan dan jumlahnya, tetapi juga proses mendapatkannya. Sebagai contoh, sebaiknya Anda lebih memilih sayur organik daripada anorganik yang diklaim mengandung bahan pestisida dan kurang sehat.
[1] Sudarmono, Pratiwi P. 2016. Mikrobioma: Pemahaman Baru tentang Peran Mikroorganisme dalam Kehidupan Manusia. Jurnal UI, Col. 4(2): 71-75.



Leave a comment