Dampak Pandemi Berpotensi Mengganggu Tumbuh Kembang Bayi

Ilustrasi: bayi di tengah pandemi (sumber: timesofmalta.com) Ilustrasi: bayi di tengah pandemi (sumber: timesofmalta.com)

Pandemi menyulitkan banyak orang dalam berbagai hal. Khusus untuk bayi yang baru lahir selama pandemi, tidak hanya berisiko tertular virus, tetapi juga berpotensi mengalami gangguan tumbuh kembang. Ini adalah dampak pandemi yang cukup berbahaya, karena gangguan tumbuh kembang yang dialami bayi diklaim bisa terjadi seumur hidup.

Pandemi Mengganggu Saraf Motorik dan Sensorik Bayi

Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Pediatrics dalam Harvard Health Publishing menunjukkan bahwa gangguan pada bayi yang lahir saat pandemi bisa berkembang menjadi kerusakan mental seumur hidup. Selain itu, pandemi juga memberikan dampak pada perkembangan bahasa, seperti anak tidak bisa menyusun kata-kata dan mengucapkan huruf vokal.[1] Ini dikaitkan dengan social distancing yang harus diterapkan selama pandemi.

Tiga tahun pertama dalam kehidupan sangat penting untuk perkembangan otak anak yang baru lahir. Untuk mendukung perkembangan otak bayi, para orang tua harus merawatnya dengan baik. Bayi membutuhkan sentuhan dari pengasuhnya untuk meningkatkan fungsi otak. Selain itu, bayi harus diajak bicara dan bermain untuk merangsang saraf sensorik dan motoriknya.

Namun, saat pandemi dan orang-orang harus menjalani social distancing, tak sedikit bayi yang mendapatkan perlakuan dingin dari orang tuanya. Beberapa orang terpaksa karena terinfeksi dan tidak bisa mengasuh bayi mereka karena anak kecil termasuk golongan yang sangat rentan terhadap penyakit.

Baca juga:  Apakah Menstrual Cup Boleh Dipakai untuk Remaja?

Alasan lainnya adalah banyak orang tua atau pengasuh yang merasa stres dan tertekan karena mengalami sejumlah krisis, salah satunya krisis ekonomi. Orang tua yang depresi cenderung mencari pelampiasan dan pelarian, hingga mereka tak sadar bahwa mereka memiliki bayi yang harus diajak bicara dan bermain.

Ilustrasi: ibu dan bayi (sumber: time)
Ilustrasi: ibu dan bayi (sumber: time)

Bayi yang jarang berinteraksi dengan orang di sekelilingnya akan kebingungan dan tidak tahu caranya membangun koneksi. Selain itu, koneksi saraf dan perkembangan otak dibangun ketika bayi berinteraksi dengan sekelilingnya, terutama orang tua. Dikutip dari HaiBunda, semakin sering bayi berinteraksi, maka semakin baik pula kinerja saraf otaknya.

Untuk membuktikan kebenaran teori bahwa pandemi mampu mengganggu tumbuh kembang bayi selama panemi, sebuah studi dari Universitas Columbia mengamati perkembangan tiga kelompok bayi usia 6 bulan. Dua kelompok bayi lahir di masa pandemi, sedangkan kelompok lainnya lahir sebelum pandemi.

Baca juga:  Punya Banyak Manfaat, Minyak Esensial Dikenal Membantu Pemulihan Kanker

Para ibu yang berpartisipasi dalam penelitian ini diberi kuesioner dan lembar khusus untuk mencatat perkembangan bayi mereka. Para ilmuwan mencatat tidak ada perbedaan dalam perkembangan kedua kelompok bayi yang lahir selama pandemi, menunjukkan bahwa paparan pralahir terhadap pandemi tidak mempengaruhi perkembangan.

Namun, bayi yang lahir selama pandemi memiliki skor perkembangan motorik kasar, motorik halus, dan sosial-emosional yang lebih rendah daripada bayi yang lahir sebelum pandemi. Contoh tugas perkembangan untuk bayi usia ini adalah tengkurap (motorik kasar), meraih atau menggenggam mainan dengan kedua tangan (motorik halus), dan perbandingan perilaku berbeda terhadap orang asing dan orang yang dikenalnya (perkembangan sosial-emosional).

Bayi yang mengalami gangguan perkembangan jika tidak segera ditangani bisa menjadi permanen. Untuk itu, berikut cara mencegah gangguan tumbuh kembang selama pandemi, khususnya pada bayi.

Cara Mencegah Gangguan Tumbuh Kembang

  • Jangan pernah meninggalkan bayi Anda sendiri selama pandemi. Jika Anda tidak sanggup untuk mengurusnya karena terinfeksi virus, sebaiknya serahkan bayi Anda kepada pengasuh atau babysitter yang sehat.
  • Buat jadwal bermain untuk bayi Anda selama pandemi. Ini sangat penting untuk mengasah saraf sensorik dan motoriknya.
  • Ajak bayi Anda untuk berbicara dan pastikan Anda menggunakan masker atau alat pelindung lainnya.
  • Bayi tidak harus dijemur di luar ruangan karena Anda bisa menjemurnya di dalam ruangan dengan pencahayaan sinar matahari tidak langsung.
  • Pastikan Anda selalu mengajak bayi berinteraksi entah itu hanya tersenyum atau membuatnya tertawa.
Baca juga:  Lima Besar Sifat Kepribadian Manusia dan Apa Artinya Bagi Psikolog

Jika anak Anda sudah terlanjur mengalami gangguan tumbuh kembang dan cara pencegahan di atas tidak berhasil, Anda harus segera membawanya ke dokter spesialis anak. Pihak medis akan membantu Anda untuk memilih jenis terapi apa yang cocok bagi si kecil. Selain itu, bayi yang memiliki tumbuh kembang sangat tertinggal biasanya membutuhkan bantuan psikiater anak. Ini bisa dilakukan jika bayi sudah berusia lebih dari setahun.


[1] Jati, Lintang Tunjung Sekar & Woro Sumarni. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Perkembangan Anak Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES, Vol. 3(1): 776-783.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*