Benarkah Scaling Gigi Itu Bahaya? Simak Ulasan Lengkapnya Berikut!
Scaling atau pembersihan karang gigi merupakan salah satu dari prosedur pencegahan (preventif) penyakit gigi-geligi. Pembersihan karang gigi dilakukan dengan menggunakan suatu alat tertentu yang disebut scaler. Ada dua jenis scaler: ada yang manual dan ada pula yang ultrasonik. Yang umum digunakan para dokter gigi modern adalah scaler ultrasonik.
Scaler ultrasonik memiliki getaran dan permukaan yang halus, bukan seperti bor yang permukaannya kasar, sehingga tidak akan mengambil jaringan gigi yang sehat. Karena itu tidak tepat jika ada mitos bahwa pembersihan karang gigi akan menipiskan atau merusak gigi. Justru dengan pembersihan karang gigi dan kontrol plak berkala secara teratur dapat membantu mempertahankan kesehatan dan kebersihan rongga mulut.
Karang gigi terbentuk dari plak gigi yang tidak tersikat dengan bersih. Plak merupakan lapisan sisa makanan yang menempel pada gigi. Lapisan ini merupakan tempat berkumpulnya bakteri dan mikroorganisme yang membahayakan kesehatan gigi dan gusi. Penumpukan plak ini selapis demi selapis akan terakumulasi dan mengalami pengerasan (kalsifikasi) dan akhirnya menjadi karang gigi.
Karang gigi umumnya ditemui di daerah sekitar leher gigi, permukaan kontak gigi, serta sela-sela gigi. Bakteri yang ada di dalam karang gigi dapat menyebabkan lubang di balik karang gigi, menyusup ke dalam gusi dan menyebabkan peradangan gusi, yang salah satu tandanya adalah gusi berdarah, dan menyebabkan infeksi jaringan penyangga gigi (salah satunya adalah tulang penyangga gigi), hingga bahkan dapat menyebabkan tersebarnya bakteri melalui pembuluh darah menuju ke organ-organ penting lainnya seperti otak, jantung, paru, hati, ginjal, bahkan janin di dalam kandungan.
Karang gigi memegang peranan penting dalam pembentukan penyakit gusi. Pada tahap awal, penyakit gusi yang diakibatkan oleh karang gigi adalah gusi meradang, disebut juga gingivitis (dari kata gingiva = gusi; dan itis = radang), yang ditandai dengan gusi memerah, agak bengkak atau membesar dari ukurannya yang semula, dan kadang berdarah terutama pada saat menyikat gigi.
Perdarahan gusi sebenarnya merupakan tanda awal adanya penyakit gusi, yang jika tidak dihiraukan, dapat menuntun pada kerusakan jaringan penyangga gigi serta kehilangan gigi. Pada tahap lanjut, gingivitis yang tidak mendapatkan perawatan yang baik akan menjadi periodontitis (dari kata periodontal = jaringan penyangga gigi; dan itis = radang). Pada tahap periodontitis, telah terjadi kerusakan tulang dan jaringan penyangga gigi, sehingga dapat terjadi kegoyangan gigi, bahkan bengkak dan sakit yang tak tertahankan yang merupakan serangan bakteri terhadap tulang di bawah gusi.
Pembersihan karang gigi berkala membantu mengeliminasi bakteri di dalam mulut, dan jelas-jelas membantu mengurangi kemungkinan karies gigi, peradangan gusi dan tulang penyangga gigi, serta mengurangi kemungkinan tanggalnya gigi.[1]
Efek Samping/Risiko Scaling Gigi
Scaling gigi umumnya tidak berbahaya jika dilakukan oleh dokter gigi yang sudah berpengalaman, baik di klinik dokter gigi atau puskesmas. Namun demikian, Anda perlu memberitahu dokter apabila pernah mengalami reaksi alergi terhadap bahan yang terkandung dalam obat bius atau jika sedang mengonsumsi obat-obatan, suplemen, atau produk herba, khususnya obat pengencer darah (antikoagulan) untuk meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.
Setelah scaling biasanya beberapa orang mungkin mengalami rasa nyeri atau ngilu. Ada pula yang bahkan mengeluhkan gigi terasa renggang. Hal ini rupanya terbilang wajar. “Memang terdapat beberapa efek setelah dilakukan pembersihan karang gigi, misalnya rasa ngilu, gusi yang turun ke arah akar, gigi goyang, hingga gigi renggang. Untuk gigi ngilu, itu disebabkan oleh alat yang menjangkau karang gigi subgingival (letaknya di bawah garis gusi). Selain itu, ngilu saat scaling biasanya akan terjadi pada gigi yang memang sudah terjadi penurunan gusi,” kata drg Callista Argentina dari KlikDokter.
Selain itu, pasien bisa saja merasakan gigi sensitif, pembengkakan, perdarahan pada gusi, bibir kering dan pecah-pecah, infeksi, hingga bakteremia atau meningkatnya jumlah bakteri dalam darah yang dapat memicu sepsis pada pasien dengan sistem imun rendah dan endokarditis pada pasien dengan gangguan jantung, demikian seperti dilansir dari Alodokter.
Untuk meminimalisir bahaya atau efek samping setelah scaling gigi, sebaiknya hindari makan dan minum bersuhu terlalu panas atau dingin, hindari makanan dan minuman manis, menyikat gigi secara perlahan, atau memakai pasta gigi khusus gigi sensitif.
[1] Gracia, M. 2015. Hypnosis in Dentistry (hlm 45-47). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.



Leave a comment