Mengenal Terapi Berkebun & Manfaatnya
Namanya Stephanie Rose. Ia merupakan seseorang yang dulunya sempat harus istirahat penuh di atas kasur selama kurang lebih 2 tahun karena suatu penyakit. Dikarenakan rasa bosan yang ia alami, akhirnya setelah 1,5 tahun hanya terbaring di atas tempat tidur, Rose memulai kebiasaan baru untuk bangun dan menggali tanah semampunya.
Tidak mudah pada awalnya, ia melakukan hal itu berulang kali selama 5 menit setiap harinya. Kemudian setelah dirasa kuat, Rose menambah waktu berkebunnya menjadi 10 menit, 30 menit. Hingga 5 tahun kemudian, tanah-tanah yang digali olehnya berubah menjadi sebuah taman. Setelah melalui pengalaman berkebun itu, Rose mendaftar menjadi ‘Master Gardener’ karena dorongan untuk menjadi relawan demi mengajarkan pendidikan dan praktik berkebun yang sehat bagi masyarakat.
Rose mulai mengerjakan tugas dari program Master Gardener dan menjadi relawan yang membawa program pertanian di sekolah-sekolah. Ia membawa anak-anak sekolahan ke sebuah peternakan. Di peternakan itu, anak-anak diajarkan bagaimana cara menanam dan menyiapkan sayuran. Dimulai dari pengalamannya dengan anak-anak, Rose mulai mencari tahu bagaimana berkebun dapat membantunya untuk terhubung dengan lebih banyak orang lagi. Berawal dari niat itulah, ia mulai fokus memperkenalkan ‘terapi berkebun’.
Terapi Berkebun
Terapi atau aktivitas berkebun telah diteliti oleh peneliti dari Fakultas Kesehatan Harvard University dan Brigham and Women’s Hospital, dan menemukan hasil bahwa orang yang tinggal di area dengan banyak tanaman ternyata memiliki kondisi fisik dan kesehatan yang lebih baik. Tiga puluh persen manfaat ini berasal dari rendahnya level depresi.
Profesor Tim Lang yang berasal dari City University London menyatakan bahwa kontak terus menerus dengan tumbuhan, hewan, dan alam sekitar bisa meningkatkan kesehatan tubuh dan mental manusia.
Seperti saat Anda menanam tumbuhan atau bunga, sebenarnya Anda tengah berinteraksi dengan elemen alami yang mampu menjadi penawar dari stres yang dialami akibat kehidupan modern.
Berkebun dianggap bisa meredam gejala-gejala dari penyakit serius, mencegah berkembangnya kondisi fisik tertentu, dan solusi untuk memperbaiki level kesehatan individu dalam jangka panjang.
Melihat adanya manfaat baik dari berkebun, beberapa organisasi di UK telah menyediakan aktivitas berkebun guna menolong individu. Menurut Ed Rosen, salah satu direktur dari organisasi yang menyediakan terapi berkebun, ia berkata bahwa terapi berkebun difokuskan pada pasien yang memiliki riwayat sakit jangka panjang, seperti diabetes, arthritis, dan asma.
Beberapa anggota terapi yang ikut (dan juga telah berusia tua) seringkali merasa terisolasi dan kesepian. Rosen mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki fungsi untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bisa dinikmati oleh semua orang.
Senada dengan yang dikatakan oleh Lang dan Rosen, seorang psikoterapis, Hilda Burke mengatakan bahwa hal yang menjadikan berkebun itu unik dan berbeda dari kegiatan lain seperti membuat kue atau merajut adalah secara harfiah, kegiatan berkebun itu menghubungkan diri Anda dengan bumi.
Bersentuhan dengan tanah, menanam sesuatu, sabar menunggu hasil, dan memelihara bibit menawarkan pelajaran berharga bagi kehidupan pribadi Anda. Pasien yang gemar berkebun menjadi penuh kasih dan memelihara diri dengan baik.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychiatry Investigation pada Mei 2012 pernah menemukan bahwa terapi hortikultura juga menguntungkan pasien demensia dengan cara mengurangi rasa sakit, meningkatkan perhatian, mengurangi stres, dan mengurangi risiko jatuh. Walaupun selama setahun menjalankan terapi itu memori dan konsentrasi peserta tidak berubah, tetapi suasana hati dan keramahan terbukti meningkat.
Manfaat Terapi Berkebun
Lalu, apa yang menjadikan terapi berkebun bisa menjadi salah satu terapi yang membawa manfaat bagi Anda? Berikut beberapa alasannya.
Tanah Bisa Berfungsi Sebagai Antidepressan
Ada pendapat yang mengatakan bahwa tanah ternyata memberikan efek bagi otak sama seperti antidepresan, yakni untuk memperbaiki mood. Hasil penelitian dari University of Bristol dan University College London menunjukan bahwa terdapat bakteri dalam tanah yang bisa memengaruhi perilaku layaknya antidepresan.
Bakteri mycobacterium vaccae yang berada di tanah ternyata bisa mengaktifkan neuron dalam otak yang memproduksi serotonin, bahan kimia yang dihasilkan otak dan bertanggung jawab untuk menciptakan rasa bahagia. Saat berkebun, Anda melakukan kontak dan menghirup bakteri ini. Mikroba dari alam ini juga bisa memperbaiki fungsi kognitif, penyakit crohn dan rheumatoid arthritis.
Aktivitas Berkebun Bisa Menciptakan Kesadaran Internal & Eksternal
Mindfulness merupakan kondisi di mana individu mampu menikmati momen secara menyeluruh. Mindfulness seringkali dikaitkan dengan aktivitas meditasi yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat stres, kegelisahan, resiko depresi, meredakan insomnia, dan meningkatkan produktivitas.
Menurut Hilda Burke, seorang psikoterapis, mengatakan bahwa berkebun bermanfaat untuk membantu Anda fokus dalam keadaan mindfulness. Keadaan mindfulness ini seringkali terjadi ketika Anda lupa waktu dan tidak terus menerus sibuk memikirkan hal lain, seperti membuat rencana atau mengulang kejadian yang telah lalu. Berkebun membuat Anda menyingkirkan hal lain, dan fokus pada momen yang tengah dijalani. Kegiatan berkebun mendorong Anda untuk bersabar dalam merawat tanaman, yang pada akhirnya bisa terbawa dalam kehidupan personal.
Berkebun Mendorong Kesehatan Otak
Selain melatih fisik Anda, berkebun juga melatih pikiran. Kegiatan ini mengaktifkan beberapa fungsi otak, seperti belajar hal yang baru, memecahkan masalah, dan kesigapan. Dengan kata lain berkebun bisa membantu pikiran tetap aktif. Beberapa studi juga menemukan manfaat dari berkebun bagi pasien demensia dan Alzheimer. Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan Psychiatry Investigation memaparkan manfaat terapi hortikultura, yakni berupa mengurangi rasa sakit, meningkatkan tingkat perhatian, dan mengurangi stres.



Leave a comment