Apakah Berbahaya Jika Ibu Hamil Menggaruk Kulit yang Gatal?

Ilustrasi: menggaruk kulit gatal (sumber: medicalnewstoday.com) Ilustrasi: menggaruk kulit gatal (sumber: medicalnewstoday.com)

Hampir kebanyakan ibu hamil mengalami rasa gatal, entah itu di bagian paha, perut, atau pinggangnya. Untuk mengatasinya, seperti gatal-gatal pada umumnya, mereka mulai menggaruk kulit. Namun, gatal pada ibu hamil dan gatal biasa tentu tidak sama. Sehingga, banyak pertanyaan yang mulai dilontarkan, salah satunya, apakah berbahaya jika ibu hamil menggaruk kulit yang gatal?

Bahaya Menggaruk Kulit pada Ibu Hamil

Gatal yang dirasakan oleh wanita hamil biasanya memiliki waktu yang berbeda-beda. Ada wanita hamil yang merasa gatal saat menjelang tidur, ada wanita yang merasa gatal ketika bangun tidur, dan ada pula wanita yang merasa gatal jika berkeringat. Rasa gatal tersebut tentunya dapat mengganggu kenyamanan ibu hamil saat beraktivitas.

Rasa gatal mulai timbul pada trimester kedua, dan pada umumnya terjadi pada trimester ketiga. Gatal-gatal ini bisa disebabkan oleh suatu kondisi yang disebut kolestasis kehamilan intrahepatik (juga dikenal sebagai IHP atau sekadar “kolestasis”). Pada kolestasis kehamilan, hati ibu mulai tidak berfungsi dengan normal, sehingga asam empedu mulai menumpuk di tubuhnya. Asam empedu menyebabkan gatal-gatal kulit yang parah. Mereka juga melewati plasenta dan menyebabkan semua jenis masalah untuk bayi seperti kelahiran prematur dan cairan bernoda meconium.

Baca juga:  Tips dan Waktu Mengganti Dokter Anak untuk Remaja

Kolestasis kehamilan biasanya dimulai dengan rasa gatal di telapak tangan dan telapak kaki, lalu rasa gatal mulai menyebar ke bagian tubuh lainnya, terutama perut. Mulai sedikit mengganggu, rasa gatal tersebut bisa terasa makin parah, sehingga tak jarang wanita hamil mulai menggaruk kulit secara berlebihan hingga tak sengaja melukai diri sendiri.

Ilustrasi: gatal pada perut ibu hamil (sumber: todaysparent.com)

Ilustrasi: gatal pada perut ibu hamil (sumber: todaysparent.com)

Selain dapat menimbulkan rasa nyeri dan luka, jika ibu hamil menggaruk secara sembarangan, kulit mudah terkelupas, apalagi jika Anda memiliki kondisi kulit yang kering. Kuku pada wanita hamil yang tidak dirawat juga dapat menyebabkan masalah serius jika digunakan untuk menggaruk, terutama bagi wanita hamil yang memanjangkan kukunya.

Kuku merupakan sarang bakteri yang harus sering dicuci dan dipotong. Kuku yang dipanjangkan dan tidak sering disusui dapat membuat luka garukan infeksi dan sulit untuk disembuhkan. Apalagi, wanita mengandung tidak bisa sembarangan mengoleskan obat luka atau menggunakan antibiotik.

Baca juga:  Mengapa Diet Tidak Memiliki Manfaat Jangka Panjang?

Sebagian besar wanita juga merasa kesulitan tidur karena intensitas gatal yang semakin bertambah. Mereka dapat mengatasi rasa gatal tersebut menggunakan krim hidrokortison atau diphenhydramine. Meskipun begitu, rasa gatal akan kembali setelah efek dari krim gatal hilang. Selain itu, kolestasis dapat menyebabkan sakit perut di bagian atas dan penyakit kuning yang ditandai dengan perubahan kulit dan mata menjadi kekuningan.

Namun, yang perlu dicatat, jika Anda sedang hamil dan merasa gatal, belum tentu Anda terkena kolestasis. Perhatikan kulit Anda yang gatal, jika pada kulit yang gatal terdapat ruam kemerahan, maka ini bukan kolestasis. Bisa jadi itu akibat gatal alergi atau gatal karena digigit nyamuk, sehingga Anda tidak perlu terlalu khawatir.

Selain itu, gatal akibat kolestasis tidak bisa hilang dengan mudah. Jika Anda merasa gatal, namun rasa gatal tersebut dapat dihilangkan dengan mudah menggunakan lotion atau antihistamin, maka Anda tidak terkena kolestasis. Kolestasis tidak akan hilang dengan mudah, meskipun Anda mengoleskan krim gatal berkali-kali.

Baca juga:  Cara Membuat Minyak Kelapa & Pemanfaatannya untuk Kecantikan Wajah

Faktor Risiko Kolestasis pada Ibu Hamil

Ilustrasi: mengatasi gatal di perut dengan lotion (sumber: thebump.com)

Ilustrasi: mengatasi gatal di perut dengan lotion (sumber: thebump.com)

  • Hamil dengan anak kembar.
  • Pernah mengalami kolestasis pada kehamilan sebelumnya.
  • Anggota keluarga yang menderita kolestasis.
  • Etnis Hispanik (khususnya Chile).
  • Sejarah hepatitis C.
  • Usia ibu lebih dari 35 tahun.
  • Diagnosis dan perawatan yang kurang tepat.

Kolestasis pada ibu hamil yang tidak diatasi dengan segera dapat menimbulkan bayi lahir meninggal dunia. Anda perlu berhati-hati saat hamil, jagalah kesehatan Anda, terutama fungsi empedu Anda agar terhindar dari kolestasis.

Rasa gatal pada saat kehamilan sebenarnya adalah hal yang sangat umum dan lumrah. Jika Anda mengalami rasa gatal, sebaiknya Anda tidak terburu panik. Tenang sejenak dan cobalah untuk mengoleskan lotion gatal khusus ibu hamil selama beberapa hari. Jika rasa gatal tersebut belum hilang dan semakin parah, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Dari sini, Anda baru akan mengetahui, apakah Anda terkena kolestasis atau tidak.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*