Bisakah Aktivitas Fisik dan Kognitif Mencegah Demensia?
Semakin bertambahnya usia, ada saja gangguan penyakit yang timbul, termasuk demensia. Diketahui, salah satu pemicu berkembangnya Alzheimer adalah demensia. Hal ini pula yang membuat dua gangguan kognitif ini selalu tampak berdampingan pada lansia. Sementara ada banyak cara untuk mencegah gangguan tersebut, tampaknya aktivitas fisik dan kognitif terbilang cukup efisien untuk mencegah demensia di usia lanjut.
Gejala Demensia
Demensia merupakan sindrom neurodegeneratif yang timbul karena adanya kelainan bersifat kronis dan progresifitas, disertai dengan gangguan fungsi luhur multipel.[1] Gangguan luhur multiple yang dimaksud antara lain kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan cara mengambil keputusan. Kesadaran pada penderita demensia sebenarnya tidak terganggu. Karena, gangguan fungsi kognitif pada penyakit demensia biasanya menurunkan kontrol emosi, perilaku, dan motivasi.
Diagnosis demensia dapat dibenarkan pada pasien jika ada dua atau lebih dari fungsi kognitif yang mengalami gangguan. Fungsi kognitif yang terganggu bisa berupa daya ingat, kemampuan berbicara, kemampuan memahami informasi, kemampuan memahami ruang gerak, menilai sesuatu, dan memberi perhatian kepada hal-hal di sekitarnya.
Umumnya, demensia muncul pada lansia. Orang yang menderita demensia mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengatasi persoalan dan mengendalikan emosi mereka, selain dapat mengalami perubahan kepribadian secara drastis.[2] Gejala yang dialami oleh orang yang menderita demensia beragam dan tergantung pada bagian otak yang terganggu.
Secara umum, pasien dengan demensia memiliki beberapa sel-sel saraf di otak yang berhenti berfungsi, kehilangan sambungan dengan sel lain, dan mati. Semakin bertambahnya usia saat lansia, menyebabkan gejala demensia semakin memburuk. Hal ini juga berarti bahwa penyakit sudah menyebar luas di otak.
Aktivitas Kognitif dan Fisik Pengaruhi Demensia
Dilansir dari Harvard Health Publishing, pada September 2021, WHO (World Health Organization) memperkirakan lebih dari 55 juta orang saat ini hidup dengan demensia, dan diperkirakan meningkat menjadi 78 juta orang di tahun 2030 dan 139 juta orang pada tahun 2050. Lalu, apa yang bisa Anda lakukan untuk mencegahnya?
Ada dua penelitian dari Rush University di Chicago yang membuktikan bahwa aktivitas kognitif dan fisik dapat memengaruhi perkembangan gejala penyakit demensia. Dalam studi pertama, peneliti meminta 1.903 orang lansia tanpa demensia di Rush Memory and Aging Project untuk melaporkan seberapa sering mereka berpartisipasi dalam aktivitas yang merangsang kognitif. Orang-orang ini adalah 75% wanita, 89% kulit putih dan keturunan non-Latin, serta memiliki pendapatan rata-rata antara USD 35.000 dan USD 49.999.
Aktivitas stimulasi kognitif yang diukur adalah seberapa sering mereka menghabiskan waktu untuk membaca, mengunjungi perpustakaan, membaca koran, dan membaca majalah. Selain itu, juga kegiatan membaca buku, menulis surat, dan bermain game (seperti catur atau permainan papan lainnya, kartu, dan teka-teki).
Selama sekitar tujuh tahun, para peneliti menemukan bahwa 457 orang didiagnosis secara klinis dengan penyakit Alzheimer pemicu demensia. Individu-individu dengan aktivitas kognitif tingkat tinggi (10% teratas) mulai mengalami Alzheimer pada usia rata-rata 93,6 tahun atau lima tahun lebih lambat daripada individu-individu dengan aktivitas kognitif tingkat rendah (bawah 10%), yang mengalami penyakit pada usia rata-rata 88,6 tahun.
Sementara, dalam studi kedua, periset memeriksa aktivitas fisik, penanda patologi Alzheimer, dan fungsi kognitif pada 1.159 peserta di Chicago Health and Aging Project. Orang-orang ini adalah 63% wanita, 60% Afrika-Amerika, dan rata-rata berusia 77 tahun. Di antara peserta, 31% melaporkan sedikit atau tidak ada aktivitas fisik, 34,5% melaporkan aktivitas fisik sedang (kurang dari 150 menit/minggu, rata-rata 62,5 menit/minggu), dan 34,5% melaporkan aktivitas fisik tinggi (setidaknya 150 menit/minggu, rata-rata 327,5 menit/minggu). Hasil studi menunjukkan, aktivitas fisik dikaitkan dengan tingkat penurunan kognitif yang lebih lambat.
Bertolak dari studi tersebut, tentunya kita bisa menilai bahwa aktivitas fisik dan kognitif sangat diperlukan, terutama bagi Anda yang menginjak usia pra-lansia. Semakin dini Anda melakukan aktivitas fisik dan kognitif dalam jumlah yang cukup dan secara rutin, semakin lama pula Anda akan terkena risiko demensia. Selain itu, Anda juga memerlukan asupan yang bergizi dan baik untuk meningkatkan fungsi kognitif Anda ketika menginjak usia lanjut.
[1] Rajagukguk, Norita & Indri Sarwili. 2017. Tingkat Demensia dengan Tingkat Aktivitas Dasar Sehari-hari pada Lansia. Artikel Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju, Vol. 7(4): 322-331.
[2] Wahyuni, Anisa & Khairun Nisa. 2016. Pengaruh Aktivitas dan Latihan Fisik terhadap Fungsi Kognitif pada Penderita Demensia. MAJORITY Universitas Lampung, Vol. 5(4): 12-16.


Leave a comment