‘Snapchat Dysmorphia’, Kaum Milenial Lakukan Operasi Agar Mirip Filter di Media Sosial

snapchat, operasi plastik, cantik, kecantikan, dokter, perilaku, media sosial, filter, selfie, foto, wajah, dysmorphia, milenial, wanita, gaya hidup, bedah, bibir, mata, pipi, dismorfik Seorang pengguna Snapchat (sumber: foxnews.com)

Saat ini, banyak aplikasi media sosial yang hadir dengan beragam filter. Hampir setiap hari filter tersebut dikirimkan kepada teman ataupun diunggah di media sosial. Filter yang ada di Snapchat ataupun Instagram memang membuat tampilan pengguna lebih sempurna. Sehingga filter media sosial juga dikatakan mampu mendorong seseorang untuk melakukan tindakan operasi plastik, benarkah?

Filter yang dihadirkan aplikasi media sosial, seperti Snapchat dan Instagram memiliki variasi yang menarik. Beberapa filter mampu membuat tampilan Anda lebih menarik tanpa cela. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan operasi plastik sehingga mendapatkan tampilan yang nyata, bukan hanya di media sosial.

Fenomena filter ini membuat sebagian orang terobsesi memiliki tampilan sempurna tersebut. Dr. Matthew Schulman yang merupakan seorang ahli bedah plastik mengatakan bahwa beberapa filter di aplikasi media sosial tersebut mampu memperbaiki rasa percaya diri.

“Ada beberapa filter Snapchat yang biasa digunakan untuk memperbaiki rasa percaya diri. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Snapchat tetap begitu populer. Pengguna secara khusus menyukai filter yang membuat tampilan kulit lebih halus. Filter populer lainnya adalah yang memberi cahaya yang baik pada kulit. Orang-orang seakan sering menunjukkan foto-foto ini untuk menunjukkan bagaimana mereka ingin dilihat. Perawatan biasa dalam situasi ini adalah perawatan kulit dengan menggunakan produk topikal kelas medis, laser, kulit, botox, dan filler,” ujar Dr. Matthew.

Dengan adanya dorongan untuk melakukan operasi plastik, itu berarti Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk tampilan yang sempurna di kehidupan nyaman. Dr. Matthew mengatakan bahwa biaya bergantung pada apa yang Anda inginkan.

Ilustrasi operasi plastik

Remaja menjalani operasi plastik agar terlihat seperti yang mereka lakukan pada saat selfie, dan itu mungkin merupakan tanda bahwa mereka menderita kondisi kesehatan mental yang mendasarinya. Selain tanduk unicorn dan telinga anjing, Snapchat dan Instagram juga menawarkan penyempurnaan filter yang menghaluskan kulit, mengecilkan wajah, dan mengubah warna mata Anda – teknologi pengeditan foto yang pada akhirnya menghasilkan sebuah penyakit mental baru yang disebut ‘Snapchat Dysmorphia’. “Sebuah fenomena baru yang disebut ‘Snapchat dysmorphia’ telah muncul, di mana pasien mencari operasi untuk membantu mereka muncul seperti versi yang di-filter dari diri mereka sendiri,” kata Dr Neelam Vashi, direktur Pusat Kosmetik dan Laser Universitas Boston.

Baca juga:  Sekolah Kembali Dibuka, Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?

‘Snapchat Dysmorphia’, juga merupakan istilah yang digunakan oleh Dr. Matthew Schulman, ahli operasi plastik di New York. Istilah ini akibat adanya keinginan operasi plastik berdasarkan filter yang mereka gunakan saat berswafoto. Beberapa filter yang mampu mengubah bentuk wajah seperti kulit lebih halus, atau mata dan bibir lebih besar, membuat orang melupakan bentuk wajah asli mereka.

“Ada masalah kehilangan perspektif tentang penampilan. Ini bukanlah sesuatu yang ingin kita bicarakan,” kata Renee Engeln, profesor psikologi di Nortwestern University, seperti dikutip dari New York Post.

“Tidak cukup untuk membandingkan diri Anda dengan gambar yang dibuat sempurna ini. Tapi sekarang, Anda jadi punya perbandingan antara diri yang asli dengan foto yang dibuat-buat, entah sengaja atau tidak, di media sosial,” kata penulis Beauty Sick: How the Cultural Obsession With Appearance Hurts Girls and Women ini.

Menurut Engeln, saat ini kita berada di masa ketika saat berkaca, tapi tidak mampu melihat keindahan di wajah sendiri. Sehingga, beberapa orang melakukan operasi plastik untuk membuat filter Snapchat agar bisa terlihat lebih nyata. Dikutip dari Huffington Post, beberapa filter yang paling populer adalah menghaluskan kulit atau menghapus sesuatu yang dirasa jelek. “Orang-orang menggunakan itu sebagai contoh dari apa yang mereka inginkan di kulit. Pada dasarnya, mereka ingin menyingkirkan pigmentasi yang terlihat jelek dan melembutkan garis-garis halus dan keriput,” kata Matthew Schulman.

Salah satu filter wajah terpopuler Snapchat (sumber: vaaju.com)

Selain itu, menurut dokter bersertifikat ini, beberapa juga mendapat inspirasi dari filter yang membuat mata terlihat lebih besar. Menurut Schulman, ini membutuhkan operasi kelopak mata atau suntik botox, yang membuat bibir mereka terlihat lebih penuh. Dr. Michelle Yagoda, ahli bedah plastik wajah di New York, juga sepakat bahwa makin banyak orang menjadikan media sosial sebagai inspirasinya di bidang kecantikan. Meski demikian, ini tidak terang-terangan.

Baca juga:  Shampo Anti Dandruff dan Anti Pelliculaire, Sama atau Berbeda?

“Saya tidak pernah benar-benar menemukan orang yang ingin seperti Angelina Jolie, atau saya ingin terlihat seperti filter Snapchat. Namun, mereka mulai berbicara mengarah ke sana, tanpa terang-terangan membicarakannya,” kata Yagoda. Menurut Engeln, hal ini tidak mengubah standar kecantikan. Namun, ini membuat lebih banyak gambaran yang tersedia.

Studi yang dipublikasikan di JAMA Facial Plastic Surgery Viewpoint, menemukan aplikasi seperti Snapchat dan penyuntingan foto Facetune yang harus disalahkan – karena mereka mengizinkan selfie untuk mencapai tingkat ‘kesempurnaan’ fisik yang sebelumnya hanya terlihat di majalah selebriti atau kecantikan.

Menurut ahli bedah plastik dan para peneliti, pasien tidak lagi membawa foto selebritis, mereka membawa foto selfie mereka – diedit agar terlihat seperti versi sempurna dari diri mereka sendiri. Dr Vashi berkata: “Sedikit penyesuaian pada Facetune dapat menghaluskan kulit, dan membuat gigi terlihat lebih putih, mata dan bibir lebih besar. Bagian yang cepat di Instagram dan likes serta komentar mulai bergulir.”

Baca juga:  Produk Blush On Cream Terjangkau, Ini Pilihan Warna Emina Cheeklit

Sekarang kaum millennial mencoba meniru kesempurnaan dalam kehidupan nyata dengan mencari perawatan yang membentuk tulang pipi, meluruskan atau mengurangi ukuran hidung, atau membuat seseorang terlihat lebih ramping.

Ingin mengubah bentuk bibir dan mata

Karena gambar-gambar ini menjadi norma di media sosial, dan dalam kehidupan nyata, gagasan tentang apa yang menarik di seluruh dunia juga berubah – yang dapat mempengaruhi harga diri dan memicu gangguan dismorfik tubuh (Body Dysmorphic Disorder). Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah jenis penyakit mental kronis di mana penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikitpun, meskipun cacat tersebut hanya minor atau hanya bayangannya saja. Penderita BDD akan sangat terobsesi terhadap penampilan dan citra tubuh. Body dysmorphic disorder juga dikenal sebagai dysmorphophobia atau rasa takut memiliki suatu kelainan.

Orang yang mengalami BDD tidak hanya bisa merasa tertekan tetapi bahkan bisa gagal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari baik itu bekerja, belajar, maupun aktivitas lainnya. Penderita BDD sering melakukan berbagai hal yang berlebihan hanya untuk mengkamuflase kekurangannya.

Penyakit mental ini diklasifikasikan pada spektrum obsesif-kompulsif, secara mengejutkan umum, mempengaruhi satu dari setiap 50 orang – dan semakin bertambah, karena generasi millennial dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat secara online.

Snapchat Dysmorphia sendiri muncul setelah penelitian sebelumnya menemukan media sosial berdampak negatif terhadap harga diri dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental. Dalam laporan tahun 2015 dari Office for National Statistics, lebih dari seperempat remaja yang menggunakan media sosial selama lebih dari tiga jam sehari ditemukan memiliki masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental. Untuk pasien yang menunjukkan gejala BDD, para peneliti dan dokter merekomendasikan skrining tambahan untuk memeriksa masalah mendasar.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*