Apa Saja Perubahan Kulit Saat Hamil?
Memasuki trimester pertama, mungkin banyak ibu hamil yang akan dikejutkan dengan beberapa perubahan kulit. Saat mengandung, memang ada banyak gangguan kulit yang akan Anda alami. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena hal ini bisa diatasi. Lalu, apa saja perubahan atau gangguan kulit yang mungkin terjadi pada wanita hamil?
Kehamilan bisa memengaruhi tubuh wanita secara keseluruhan, termasuk bagian kulit tubuh dan sebagian besar perubahan yang terjadi bersifat temporer. Perubahan kulit yang terjadi pada ibu hamil tampak pada permukaan kulit yang meregang dan terkena imbas dari peningkatan sekresi hormon pada korteks.[1] Dalam hal ini, ada beberapa perubahan kulit yang terjadi.
Kulit Menjadi Lebih Gelap
Dilansir dari Harvard Health Publishing, perubahan hormon yang terjadi pada wanita hamil mampu mengubah warna kulitnya menjadi gelap. Biasanya, penggelapan pada kulit akan terjadi di bagian yang memiliki lipatan, seperti area paha, vagina, leher, ketiak, dan bagian lainnya seperti puting.
Selain itu, penggelapan kulit yang lebih pekat juga terjadi di pusar hingga kemaluan yang membentuk garis lurus atau biasa disebut dengan linea nigra. Untuk mengatasinya, Anda bisa mengoleskan krim khusus yang sudah disetujui oleh dokter kandungan.
Penggelapan kulit pada wanita hamil terbilang normal. Meskipun begitu, jika Anda menemukan adanya bintik-bintik hitam yang tumbuh atau terlihat janggal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Bintik-bintik yang berupa tahi lalat mungkin tidak berbahaya. Namun, jika ditemukan kutil atau tumor jinak, bisa membahayakan janin dan ibu hamil.
Melasma
Perubahan kulit yang terbilang paling mengganggu dan umumnya dialami wanita hamil adalah melasma. Melasma atau biasa dikenal dengan topeng kehamilan biasanya lebih banyak ditemukan di area dahi, pipi, dan bibir atas. Perubahan kulit ini bisa bertambah parah apabila Anda sering terpapar sinar matahari.
Sebagai upaya pencegahan, Anda bisa memakai tabir surya khusus yang aman bagi wanita hamil. Gunakan sunblock atau sunscreen secara konsisten jika Anda ingin ke luar rumah. Sebagai rekomendasi, pilihlah produk dengan kandungan SPF (Sun Protection Factor) lebih dari 50. Selain itu, pakailah topi untuk menutupi wajah yang terkena melasma.
Melasma pada ibu hamil akan cenderung membaik setelah melahirkan, namun ada juga yang tak kunjung hilang. Jika Anda mengalami melasma pada saat kehamilan dan tidak kunjung hilang setelah melahirkan, Anda bisa mengaplikasikan skincare atau krim khusus tanpa hidroquinon dari dokter kulit.
Stretch Mark
Stretch mark dengan nama medis striae gravidarum adalah garis tipis berwarna merah muda atau putih pada kulit yang berkembang hingga 90% pada wanita hamil. Perubahan kulit ini bisa terjadi akibat pembesaran dan peregangan kulit selama masa kehamilan. Paling sering, stretch mark muncul di bagian tubuh yang berlemak, antara lain perut, payudara, pantat, paha, dan pinggul. Garis tipis ini cenderung muncul pada akhir trimester kedua dan ketiga.
Untuk mencegah serta mengatasinya, Anda bisa mengoleskan minyak nabati dengan kandungan vitamin E tinggi seperti minyak zaitun. Selain itu, Anda bisa memakai bubuk kakao yang terbilang efektif. Beberapa ibu muda juga mencoba menghilangkan gangguan kulit tersebut menggunakan skincare dengan bahan asam hialuronat topikal, tretinoin, dan trofolastin setelah melahirkan.
Menghilangkan stretch mark dengan cara tersebut mungkin membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama. Bagi Anda yang suka dengan cara instan, mungkin bisa mencoba treatment laser dan microneedling. Cara ini akan membantu meningkatkan kadar kolagen di kulit dan menurunkan aliran darah ke lesi, sehingga struktur kulit akan kembali normal.
Jerawat
Jerawat adalah hal yang umum dan tidak hanya dialami oleh wanita hamil. Jerawat biasa dan jerawat pada wanita hamil berbeda. Pada orang biasa, jerawat mungkin akan muncul dalam jumlah sedikit dan tidak berkelompok. Sementara, pada orang hamil, jerawat akan terlihat meradang, bergerombol, dan banyak,
Jerawat pada wanita hamil lebih sering muncul pada trimester pertama akibat lonjakan estrogen. Kadar hormon estrogen yang meningkat akan menyebabkan produksi minyak berlebih pada kulit, sehingga mau tak mau, wanita hamil akan berjerawat atau berkomedo.
Pengobatan jerawat untuk ibu hamil terbilang sulit. Wanita hamil tidak dianjurkan memakai skincare dengan bahan kimia, berbeda dengan orang normal. Meskipun begitu, Anda bisa mendapatkan obat jerawat untuk wanita hamil menggunakan resep dokter. Biasanya, dokter akan meresepkan obat khusus dengan kandungan benzoil peroksida. Jika perawatan tersebut kurang efektif, maka dokter akan meresepkan obat antibiotik oral, antara lain eritromisin, azitromisin, dan sefaleksin.
[1] Fenny & Nia Desriva. 2020. Efektivitas Pemberian Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap Pencegahan Striae Gravidarum pada Kehamilan di RS PMC. Jurnal Ilmu Kebidanan Al-Insyirah Midwifery, Vol. 9(1): 8-13.





Leave a comment