Peneliti Temukan Pengobatan Baru untuk Kanker Payudara Stadium Awal

Ilustrasi: kanker payudara (sumber: dailysabah.com) Ilustrasi: kanker payudara (sumber: dailysabah.com)

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang umum pada perempuan di Indonesia dengan kontribusi sebesar 30% dan mengalahkan kasus kanker serviks dengan kontribusi 24% dari seluruh jumlah kasus penyakit kanker tahun 2013.[1] Hingga saat ini, penyakit tersebut masih menjadi momok para wanita. Untungnya, sudah ada penelitian yang menemukan pengobatan untuk kanker payudara stadium awal.

Penyebab Kanker Payudara

Dilansir dari Harvard Health Publishing, di AS, kanker payudara adalah kanker yang paling sering didiagnosis pada wanita, dan penyebab utama kedua kematian terkait kanker. Setiap tahun, diperkirakan 270.000 orang yang terdiri dari wanita (paling banyak) dan pria didiagnosis menderita penyakit ini. Namun, jika kondisi kanker diketahui sejak awal dan masih dalam stadium pertama, penyakit umumnya bisa diobati dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Bentuk pengobatan untuk kanker stadium awal diketahui masih baru dan ini bisa memperluas pilihan pasien dengan penyakit tersebut, khususnya bagi mereka yang memiliki kelainan genetik. Umumnya, kanker stadium awal belum menyebar ke organ atau jaringan tubuh yang berjauhan dengan lokasi atau titik munculnya kanker payudara, sehingga lebih mudah diobati.

Baca juga:  5 Jamu Untuk Wanita Lepas Bersalin Agar Tubuhmu Kembali Singset

Kanker payudara bisa muncul akibat beberapa faktor dan salah satunya adalah genetik. Kelainan genetik ini adalah mutasi gen BRCA abnormal yang diwariskan dari orang tua ke anak. Dikenal dengan gen BRCA (Breast Cancer), ini terbagi menjadi dua, yakni gen BRCA1 dan BRCA2. Diketahui, gen BRCA akan membantu memperbaiki kerusakan DNA (kode genetik) dalam tubuh yang tersusun di sel seluruh tubuh manusia.

Ketika seseorang memiliki mutasi BRCA, tubuh mereka tidak dapat memperbaiki kerusakan DNA rutin pada sel dengan mudah. Akumulasi kerusakan sel ini dapat menjadi pemicu kanker. Memiliki mutasi BRCA1/ BRCA2 atau keduanya, dapat menempatkan seseorang pada risiko yang lebih tinggi untuk kanker payudara, ovarium, prostat, pancreas dan melanoma.

Secara keseluruhan, hanya 3% hingga 5% dari semua wanita dengan kanker payudara yang mengalami mutasi gen BRCA abnormal. Namun, mutasi BRCA abnormal lebih sering terjadi pada kelompok orang tertentu, seperti mereka yang menderita kanker payudara triple negative (TNBC), riwayat keluarga yang kuat dengan kanker payudara/ovarium, dan gadis dengan kanker payudara.

Ilustrasi: kanker payudara (sumber: wcrf.org)

Ilustrasi: kanker payudara (sumber: wcrf.org)

Wanita dengan mutasi BRCA2 abnormal biasanya mengembangkan ER+/HER2- kanker payudara, yaitu sel kanker yang dipicu hormon estrogen tetapi bukan protein yang dikenal sebagai HER2 (faktor pertumbuhan epidermal manusia 2). Sementara itu, perempuan dengan mutasi BRCA1 abnormal cenderung mengembangkan kanker payudara tiga kali lipat (ER-/PR-/HER2-), yaitu sel kanker yang tidak dipicu  hormon estrogen dan progesteron, atau HER2.

Baca juga:  Kulit Anda Bermasalah? Awas Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Obat Kanker Payudara Stadium Awal

Mengetahui penyebab kanker payudara membantu para ilmuwan untuk mengembangkan pengobatan baru untuk penyakit ini dan dokter untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan tumor akibat kanker. Obat baru yang ditujukan untuk kanker payudara stadium awal terkait BRCA berkaitan dengan uji coba OlympiA, dengan peserta pasien kanker payudara stadium awal yang mewarisi mutasi BRCA1/BRCA2 abnormal. Semua peserta ini berada pada risiko tinggi untuk mengalami kambuhnya kanker payudara, meskipun sudah menjalani pengobatan umum untuk kanker.

Secara acak, pasien diberi pil obat kanker yang mengandung olaparib dan plasebo (pil gula) sebanyak dua kali sehari selama setahun. Olaparib termasuk dalam kelas obat yang disebut inhibitor PARP (Poly Adenosine Diphosphate-ribose Polymerase), adalah enzim yang biasanya membantu memperbaiki kerusakan DNA. Obat ini juga memiliki indikasi untuk memblokir enzim dalam sel kanker akibat mutasi BRCA abnormal yang menyebabkan sel-sel mati karena peningkatan kerusakan DNA.

Baca juga:  Rekomendasi Merk Krim Malam untuk Kulit Wajah Berminyak dan Berjerawat

Dipublikasikan di New England Journal of Medicine, kanker pada pasien yang menerima olaparib dilaporkan lebih kecil kemungkinannya untuk kambuh atau bermetastasis (menyebar ke organ atau jaringan yang jauh) dibandingkan mereka yang menggunakan plasebo. Tindakan lebih lanjut dilakukan selama dua setengah tahun, menunjukkan 85% pasien yang menerima olaparib masih hidup dan tidak memiliki kekambuhan kanker atau mengalami kanker baru.

Masih kurang akurat, penelitian dilakukan lebih lanjut dalam waktu tiga tahun. Hasil penelitian menunjukkan, olaparib dapat menghambat penyebaran kanker ke organ tubuh serta jaringan dan meningkatkan taraf hidup pasien hingga 92%. Namun, obat ini memiliki efek samping yang patut dipertimbangkan, seperti penurunan sel darah putih dan merah, anemia, serta kelelahan.

[1] Dewi, Gusti Ayu Triara & Lucia Yovita Hendrati. 2015. Analisis Risiko Kanker Payudara Berdasar Riwayat Pemakaian Kontrasepsi Hormonal dan Usia Menarche. Jurnal Berkala Epidemiologi Universitas Airlangga, Vol. 3(1): 12-13.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*