Adakah Pengaruh KB Steril Terhadap Siklus Menstruasi?
Tubektomi atau ligasi tuba adalah prosedur pembedahan untuk mencegah kehamilan. Metode kontrasepsi yang kerap disebut KB steril atau sterilisasi ini bisa dilakukan dengan memotong atau mengikat saluran tuba falopi untuk mencegah sel telur dilepaskan oleh indung telur ke rahim.
Oleh sebab itu, walaupun terdapat sel sperma yang masuk saluran reproduksi wanita, tetap tak akan terjadi pembuahan. KB steril untuk wanita ini dilakukan apabila pasangan suami istri sudah sepakat untuk tak ingin memiliki anak lagi (jumlah anaknya sudah cukup) atau karena berkaitan dengan kondisi kesehatan wanita apabila terjadi kehamilan berikutnya.
Terdapat dua jenis KB steril untuk wanita yang dapat Anda pilih, yaitu implan tuba (non-operasi) dan ligasi tuba (operasi).Lalu, adakah risiko atau efek samping dari tindakan KB steril? Salah satu efek samping yang bisa saja terjadi apabila Anda menjalani KB steril adalah infeksi dan pendarahan di tuba falopi, walaupun kasus ini tergolong jarang. Pada kasus lain yang juga jarang terjadi, tuba falopi yang diikat bisa kembali tersambung atau sembuh secara spontan setelah sterilisasi.
Jika kondisi itu terjadi, maka akan ada kemungkinan kehamilan terjadi secara ektopik. Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi saat janin tertanam bukan di rahim, tetapi di bagian lain termasuk tuba falopi. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kehamilan ektopik pun bisa sangat berisiko serta mengancam nyawa. Risiko lainnya dari KB steril adalah infeksi pada bekas luka atau cedera di bagian perut.
Pengaruh Tubektomi Terhadap Menstruasi
Dilansir Hellosehat, tubektomi atau ligasi tuba sebenarnya tidak mengganggu hormon tubuh, tidak seperti alat kontrasepsi lainnya. Maka dari itu, prosedur tubektomi tidak akan mengganggu siklus menstruasi maupun menopause. Artinya, Anda masih akan menstruasi meski telah menjalani prosedur tubektomi.
Dinding rahim tetap menebal dan dalam siklusnya akan mengalami peluruhan dinding rahim. Peluruhan dinding rahim inilah yang disebut menstruasi dan mekanisme alami ini tetap akan terjadi meskipun sudah dilakukan tubektomi. Tidak ada hubungan langsung antara mekanisme siklus menstruasi dengan proses tubektomi.[1]
Meski demikian, mungkin ada beberapa hal yang berubah setelah mengalami tubektomi. Walaupun secara umum tak mengganggu siklus menstruasi, wanita yang menjalani tubektomi bisa saja mengalami periode haid atau menstruasi yang lebih singkat dari sebelumnya, perdarahan yang tak berlebihan, sampai nyeri perut karena haid yang intensitasnya jadi lebih jarang terjadi.
Tak menutup kemungkinan pula bahwa seorang wanita mengalami gangguan menstruasi usai melakukan prosedur tubektomi. Beberapa gejala gangguan yang bisa saja terjadi antara lain merasa mual seperti ingin muntah, payudara terasa nyeri, menstruasi terlambat atau tidak menstruasi sama sekali, serta perut bagian bawah terasa nyeri dan sakit sekali.
Kelebihan Tubektomi
Prosedur tubektomi menawarkan beberapa keunggulan dibanding alat kontrasepsi pada umumnya, yaitu:
- Tidak memengaruhi produksi hormon, sehingga tak akan terjadi perubahan pada gairah seks atau menstruasi.
- Hanya memerlukan satu kali prosedur tubektomi.
- Mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi untuk mencegah kehamilan.
Kelemahan Tubektomi
- Walaupun angka keberhasilannya mencapai 99%, pada beberapa kasus bisa saja wanita kembal hamil setelah disterilisasi meski kemungkinannya sangat kecil.
- Memakan biaya yang cukup mahal dibandingkan alat kontrasepsi lainnya.
- Sangat berkaitan dengan usia. Jadi, apabila semakin muda seorang wanita menjalani tubektomi, maka kemungkinan untuk gagal pun semakin tinggi.
- Apabila setelah sterilisasi ternyata wanita ingin hamil lagi, maka akan sulit untuk dilakukan penyambungan tuba kembali. Oleh sebab itu, pikirkan terlebih dahulu secara matang sebelum memutuskan untuk melakukan KB steril.
- Tidak bisa melindungi Anda dari risiko penyakit menular seksual, sehingga masih memerlukan alat kontrasepsi lainnya seperti kondom.
- Dalam beberapa penelitian, tubektomi disebut berpengaruh tidak langsung pada hormon. Tetapi masih belum diketahui apakah tubektomi memengaruhi kapan terjadinya menopause.
Sebagai alat kontrasepsi yang sifatnya permanen, sebaiknya diskusikan dulu keputusan Anda bersama suami dan keluarga apabila hendak melakukan KB steril. Pasalnya jika sudah sekali melakukan prosedur ini, maka kemungkinan untuk hamil lagi hampir tidak mungkin atau peluangnya sangat kecil.
[1] Sari, W dkk. 2012. Panduan Lengkap Kesehatan Wanita. Jakarta: Penebar Plus+.



Leave a comment