Mengapa Merasa Mabuk Setelah Terkena Serangan Panik dan Kecemasan?
Serangan panik muncul dari rasa takut atau kecemasan berlebihan secara tiba-tiba dan ditandai dengan detak jantung bertambah cepat, napas menjadi pendek, dan gemetar selama beberapa menit hingga jam.[1] Nah, umumnya setelah serangan panik dan kecemasan dirasakan, pasien akan merasa mabuk. Lalu, apa yang mendasarinya?
Sensasi Setelah Serangan Panik dan Kecemasan
Jika Anda menghadapi kecemasan dan serangan panik, Anda mungkin akrab dengan sensasi lelah dan lemas yang muncul setelahnya. Ada juga beberapa pasien yang mengalami kabut otak dan kelesuan. Jika Anda mengalaminya, mungkin Anda akan merasa sulit berpikir dan fokus. Anda juga bisa kurang waspada dan merasa nyeri di beberapa bagian tubuh tertentu.
Selama kecemasan atau serangan panik, tubuh mengalami berbagai perubahan kimia dan mulai memompa adrenalin. Detak jantung Anda semakin cepat dan pernapasan menjadi berat. Kemudian, ketika serangan berlalu dan turun dari respons intens yang dihasilkan sistem saraf, serangkaian gejala baru muncul dan serangan kecemasan seperti mabuk akan membuat orang merasa terkuras secara mental dan fisik.
“Gejala serangan panik membutuhkan banyak energi dan itu akan membuat kita semakin lelah, hingga tidak bisa mengontrol kesadaran, sehingga akan terasa seperti mabuk,” kata Jessica Stern, asisten profesor klinis di departemen psikiatri di NYU Langone Health dalam HuffPost. “Namun, perlu dipahami, serangan panik dan kecemasan bisa menjadi dua hal yang berbeda.
Perbedaan Serangan Panik dan Kecemasan
Serangan panik atau panic attack adalah reaksi fisiologis ketika respons tubuh melawan atau lari diaktifkan untuk membantu seseorang bersiap menghadapi sesuatu yang berbahaya. Orang sering mengatakan bahwa serangan panik terasa seperti mengalami serangan jantung atau sekarat dan ini dapat memicu kecemasan yang intens bersama dengan campuran gejala fisik, termasuk detak jantung yang cepat, berkeringat, gemetar, dan sesak napas.
“Sementara itu, serangan kecemasan atau anxiety attack, biasanya terjadi ketika orang tidak bisa mengendalikan kecemasan mereka,” kata David Klemanski, psikolog Yale Medicine. “Kecemasan melewati ambang batas membuat Anda lepas kontrol.”
Selama kedua jenis serangan itu terjadi, adrenalin akan dipompa ke seluruh tubuh. Ketika Anda turun dari lonjakan adrenalin itu, Anda mungkin merasa tersengat karena Anda baru saja mengalami pengalaman emosional yang intens dan dalam kasus tertentu, reaksi fisik yang melelahkan juga bisa terjadi.
Setelah serangan, orang sering merasa kehabisan tenaga dan kelelahan. Jika Anda mengalami hiperventilasi, Anda bahkan mungkin merasa sakit, terutama di dalam otot dada. Beberapa mungkin mengalami mual, masalah pencernaan, sakit kepala dan migrain bersama dengan gejala yang terkait dengan kondisi kronis yang mereka miliki.
Klemanski juga mengatakan, efek samping yang datang dengan serangan panik cenderung lebih intens daripada yang mengikuti anxiety attack. Itu tergantung pada orangnya, efek sampingnya dapat berlangsung selama beberapa jam, atau satu atau dua hari penuh.
Cara mengatasi Mabuk Akibat Serangan Panik dan Kecemasan
Jika Anda secara teratur mengalami serangan kecemasan atau serangan panik, Stern merekomendasikan untuk mempelajari apa yang Anda butuhkan selama dan setelah serangan, sehingga Anda dapat memiliki rencana. Metode pengobatan seperti teori perilaku kognitif dapat membantu Anda mempelajari cara mengelola kecemasan dan kepanikan saat muncul, sehingga Anda tidak perlu berurusan dengan gejala mabuk yang parah setelahnya.
Namun, jika serangan sudah datang dan pergi, dan Anda merasa tidak nyaman, ada beberapa cara untuk mengurangi gejalanya. Langkah pertama adalah berhenti sejenak dan mengambil napas untuk memperlambat gejalanya.
“Buatlah lingkungan Anda menjadi terasa nyaman,” kata Stern. “Matikan lampu, nyalakan musik yang menenangkan, dan lakukan apa yang Anda butuhkan untuk menenangkan diri.”
Klemanski juga merekomendasikan Anda berlatih fokus. Bawa diri Anda ke saat ini dan akui apapun yang Anda rasakan secara fisik dan emosional. Terlibat dalam beberapa teknik pernapasan dalam, seperti pernapasan diafragma, pernapasan kotak dan pernapasan berirama untuk mengatur tubuh Anda lebih santai.
Latih semua perilaku sehat paling dasar, seperti memastikan Anda cukup tidur, mendapatkan nutrisi yang tepat, dan temukan seseorang untuk memproses emosi Anda, baik itu teman dekat atau profesional kesehatan mental. Stern mengatakan sangat penting untuk menjangkau seseorang yang menenangkan, bukan seseorang yang akan membuat Anda lebih banyak beraktivitas.
[1] Ihsan, Muhammad Khairul, dkk. 2020. Serangan Panik kepada Orang yang Survival. e-Proceeding of Art & Design Universitas Telkom, Vol. 7(2): 5768-5775.


Leave a comment