Fakta Unik, Mengobati Insomnia Bisa Cegah Depresi pada Lansia
Depresi merupakan gangguan emosional atau suasana hati yang buruk dan ditandai dengan kesedihan berkepanjangan, putus harapan, perasaan bersalah, dan tidak berarti.[1] Tak hanya diderita remaja, depresi juga umum diderita lansia. Ini disebabkan banyak hal, mulai dari stres, merasa kesepian, kurang perhatian dari keluarga, hingga penyakit medis. Sementara penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama, Anda bisa cegah depresi di usia lanjut dengan mengobati insomnia sebagai gejala awalnya.
Insomnia Gejala Depresi Lansia
Dikutip dari Harvard Health Publishing, depresi merupakan gangguan mental yang umum pada lansia. Diperkirakan, lebih dari 10% orang dewasa di atas usia 60 tahun telah berjuang dengan itu. Umumnya, depresi di usia lanjut disebut dengan major depressive disorder (MDD).
Ada sejumlah gejala MDD yang membedakannya dengan depresi biasa, termasuk suasana hati yang tertekan, kehilangan minat pada aktivitas yang menyenangkan, kesulitan berkonsentrasi, dan merasa kurang percaya diri. Selain itu, penderitanya akan merasa bersalah, munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri, mudah kelelahan, mengalami gangguan tidur, mengalami penurunan/penambahan berat badan, perubahan nafsu makan drastis, dan mudah gelisah.
Salah satu gejala awal yang umum dirasakan para lansia pengidap MDD adalah insomnia. Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderita MDD kesulitan tidur, bangun terlalu dini, tertidur dengan rasa lelah, dan mimpi buruk. Di sisi lain, ada juga pasien MDD yang mengalami hipersomnia atau tidur berlebihan.
Jika Insomnia tidak segera diatasi, maka gejala MDD lainnya akan bermunculan dan semakin berkembang hingga menjadi gejala yang kompleks. Sangat penting bagi Anda yang berusia lanjut untuk mengontrol waktu tidur Anda. Bahkan, sebuah penelitian menyebutkan, lebih dari 70% lansia berusia 65 tahun mengidap insomnia.
Obati Insomnia untuk Cegah Depresi Lansia
Ada semakin banyak bukti bahwa mengobati insomnia pada lansia berpotensi meningkatkan kualitas tidur dan suasana hati mereka, sehingga tidak berisiko MDD. Misalnya, dalam satu penelitian yang dilakukan di Australia, peserta penelitian insomnia diobati dengan terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I).
CBT-I adalah seperangkat alat khusus yang dirancang untuk membantu pasien dalam mengobati insomnia, dan ini berbeda dari strategi kognitif dan perilaku yang biasanya digunakan dalam pengobatan depresi. Meskipun hanya menerima terapi yang berfokus pada insomnia, 61% peserta penelitian yang telah menerima CBT-I dari ahli pengobatan tidur merasa lebih baik dan gejala depresi mereka membaik, sehingga MDD mereka dianggap dalam masa remisi.
Di sisi lain, penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di JAMA Psychiatry melihat apakah CBT-I dapat mencegah perkembangan MDD pada orang dewasa di atas 60 tahun. Sebanyak 291 peserta yang memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan insomnia. Peserta uji coba secara acak ditugaskan untuk menerima CBT-I dari psikolog klinis atau program kesehatan masyarakat yang berfungsi sebagai kondisi kontrol penelitian. Tim peneliti memantau peserta penelitian setiap enam bulan selama total tiga tahun untuk menentukan apakah mereka mengembangkan MDD.
Selama periode tindak lanjut tiga tahun, 12% peserta yang telah menerima CBT-I tidak mengembangkan MDD, sementara 26% peserta yang hanya menerima program pendidikan tidur mengembangkan MDD. Para peneliti kemudian menggunakan pendekatan statistik untuk mempertimbangkan dampak dari tingkat gejala ringan depresi pada awal dan penggunaan obat antidepresan, serta hipnotis.
Mereka menyimpulkan bahwa ada penurunan hampir 60% risiko depresi. Tentunya, ini adalah hasil yang tidak mengecewakan dan bisa menjadi salah satu pembuka penelitian lanjutan. Menarik untuk dicatat bahwa di antara peserta penelitian yang menerima CBT-I, tidur mereka tampaknya juga berperan, hanya 5% penerima CBT-I yang mengembangkan MDD jika insomnia mereka telah disembuhkan, dibandingkan dengan 15% dari keseluruhan hasil CBT-I.
Dengan penelitian tersebut, diharapkan banyak orang dewasa yang berusaha untuk mengatasi gejala insomnia. Selagi masih muda, sebaiknya Anda tidak melakukan hal-hal yang berisiko insomnia, karena bisa mengembangkan MDD di masa mendatang. Ada banyak hal untuk mencegah serta mengobati insomnia ketika remaja hingga dewasa, seperti mengganti pola hidup sehat, tidak merokok, menghindari makanan bergula, dan tidak terlalu banyak mengonsumsi kafein.
[1] Dirgayunita, Aries. 2016. Depresi: Ciri, Penyebab dan Penangannya. Journal An-nafs: Kajian dan Penelitian Psikologi Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Probolinggo, Vol. 1(1): 1-14.


Leave a comment