Jenis-Jenis Produk Saniter Menstruasi, Kain Lap Katun Salah satunya
Menstruasi merupakan proses alamiah yang mulai terjadi pada perempuan usia 12-16 tahun sebagai tanda organ reproduksi telah berfungsi dengan baik.[1] Di era modern seperti ini, sudah ada jenis produk saniter menstruasi yang praktis seperti pembalut, tampon, dan menstrual cup. Sementara itu, kain lap dari katun adalah salah satu saniter haid populer di abad ke-20.
Dari Kain Lap Menjadi Pembalut dan Tampon
Dikutip dari Deutsche Welle, pada awal abad ke-20, kain lap digunakan sebagai saniter menstruasi karena mudah ditemukan dan nyaman dipakai. Kain lap yang dipakai biasanya berbahan dari kain katun yang mudah menyerap cairan. Selain itu, beberapa wanita juga suka menggunakan kain handuk, karena lebih tebal dan anti bocor.
Seiring berkembangnya teknologi, banyak penelitian tentang inovasi untuk membuat saniter menstruasi supaya lebih praktis. Kain lap atau handuk dinilai kurang praktis, meskipun nyaman dipakai. Hal ini karena para gadis harus mencucinya terlebih dahulu dengan cara merendamnya di dalam sabun khusus.
Hingga akhirnya muncul tampon dan pembalut yang dinilai praktis dan nyaman dibandingkan kain lap. Jenis saniter ini sifatnya sekali pakai, sehingga para gadis tidak perlu mencucinya dengan deterjen khusus. Cukup dibilas dengan air maka darah pada tampon atau pembalut akan hilang. Setelah dibilas, produk yang sudah dipakai bisa langsung dibuang, sehingga bersifat higienis.
Meskipun terbilang modern, ternyata tampon dan pembalut memiliki sejumlah kekurangan. Bagi beberapa orang, mengeluarkan dana untuk membeli produk saniter menstruasi seperti ini dinilai kurang penting. Gaji yang sudah dipotong biaya bulanan dan masih harus dibelikan tampon atau pembalut, membuat beberapa wanita resah. Apalagi, di sejumlah negara, pembelian produk saniter menstruasi dikenai pajak yang cukup besar.
Mahalnya harga pembalut di sejumlah negara, membuat remaja putri rela bolos sekolah untuk mengurangi biaya belanja keluarga. Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa beberapa gadis di Bangladesh, India, Uganda, dan Inggris akan tinggal di rumah selama menstruasi.
Sebuah penelitian tahun 2015 di Sudan Selatan menemukan, hanya 17% anak perempuan menggunakan pembalut sekali pakai. Sisanya menggunakan potongan kain tua, kulit kambing, atau tidak sama sekali.
Sementara itu, di Nepal, ada tempat yang disebut gubuk menstruasi untuk mengurung wanita yang sedang datang bulan tanpa saniter haid. Juga disebut chhaupadi, praktik ilegal yang melanggar hukum seperti ini masih dilakukan di desa-desa. Sebuah survei tahun 2019 menunjukkan bahwa ada 400 gadis di pedesaan Nepal yang mempraktikkan chhaupadi.
Selain itu, tampon dan pembalut diklaim dapat merusak lingkungan. Untuk jenis pembalut dan tampon non-organik bisa memakan waktu 500-800 tahun untuk terurai. Menurut peneliti Inggris, tampon dan pembalut juga bisa menyebabkan sindrom syok toksik, yakni infeksi pada organ intim wanita.
Sementara itu, Jen Gunter, dokter kandungan di Kanada lebih menyarankan para pasiennya untuk menghindari sea sponge tampons atau tampon yang bentuknya seperti spons dan terbuat dari rumput laut dan alga. Meskipun itu adalah jenis tampon organik, tetapi tidak cukup baik dalam hal kesehatan.
“Tampon dengan karakteristik spons seperti ini harus dihindari karena tidak bisa dibersihkan dan mampu menjadi sarang bakteri,” kata Gunter. “Bakteri yang mengumpul di tampon bisa berpindah dan menginfeksi vagina.”
Permukaan sea sponge tampons umumnya tidak selembut tampon yang terbuat dari katun. Hal ini juga yang bisa membuat dinding organ intim wanita mengalami lecet. Jika tidak segera diobati, bisa menjadi luka infeksi.
Menstrual Cup Alternatif Pembalut dan Tampon
Sebagai alternatif untuk mengatasi semua permasalahan yang timbul akibat tampon dan pembalut, Anda bisa memilih menstrual cup atau cup menstruasi. Ini adalah alat yang sifatnya mirip dengan kain lap, yakni bisa dipakai berkali-kali dan praktis seperti tampon atau pembalut yang ringan dibawa dan nyaman dipakai.
Menstrual cup berbentuk seperti cangkir yang terbuat dari silikon dengan daya tahan selama 10 tahun. Produk seperti ini diklaim aman untuk digunakan, bahkan selama 12 jam berturut-turut, tetapi harus dicuci dengan sabun dan air di antara penggunaan. Sebagai contoh, Anda bisa mencuci dan membersihkannya setiap 2-4 jam pemakaian.
Harga untuk satu menstrual cup memang tidak murah, tetapi itu tidak masalah, karena Anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk saniter menstruasi lagi selama 10 tahun mendatang. Dengan perhitungan seperti ini, tentunya Anda bisa lebih berhemat.
Sebelum digunakan, Anda harus merebus menstrual cup dalam air panas. Ini bertujuan untuk membunuh bakteri yang menempel pada benda tersebut. Selain itu, proses sterilisasi seperti ini sangat penting, apalagi cup menstruasi digunakan berulang kali.
[1] Amalia, Putri & Yola Amrullah. 2019. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menstruasi. Jurnal Kebidanan STIKes Prima Indonesia, Vol. 5(3): 287-291.



Leave a comment