Banyak Kasus Tidak Terdiagnosis, Bagaimana Memberantas Hepatitis B?

Virus Hepatitis B (sumber: geneproof.com) Virus Hepatitis B (sumber: geneproof.com)

Hepatitis menjadi masalah kesehatan yang serius di Asia, termasuk Indonesia, karena bisa membunuh penderitanya secara diam-diam. Dari sekian jenis hepatitis yang ada, diketahui Hepatitis B adalah yang paling mematikan. Terkait hal ini, lalu bagaimana Asia memberantasnya? Apalagi jika kasus Hepatitis B kebanyakan tidak terdiagnosis.

Kasus Hepatitis B di Korea Selatan

Termasuk jenis penyakit menular dalam bentuk peradangan, hepatitis disebabkan virus. Hepatitis A dan E dapat ditularkan melalui fecal oral, sedangkan Hepatitis B, C, dan D ditularkan melalui parenteral.[1] Hampir semua jenis hepatitis tersebut dapat disadari dengan mudah, kecuali Hepatitis B.

Sering disebut sebagai silent killer, Hepatitis B memiliki gejala yang jarang muncul hingga penyakit sudah mencapai stadium lanjut. Jika tidak segera diobati, penyakit ini bisa menyebabkan sirosis atau penyakit hati stadium akhir. Tak hanya itu, Hepatitis B kronis dapat meningkatkan risiko pengembangan karsinoma hepatoseluler (jenis kanker hati primer yang umum).

Dilansir dari South China Morning Post, kebanyakan orang dengan infeksi hati serius yang disebabkan virus Hepatitis B tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Padahal, diagnosis dini adalah salah satu cara untuk mengobati Hepatitis B menggunakan antivirus supaya penyakit tidak berkembang.

Baca juga:  Bisakah Menggunakan Invisalign untuk Merapikan Gigi Tonggos?

Masih dari sumber yang sama, contoh kasus Hepatitis B yang tidak disadari dan berkembang menjadi penyakit kronis ini dialami seorang pensiunan asal Korea Selatan bernama Min Kyeung-yun. Kakek ini merasa terpukul ketika mengetahui istrinya mengalami kanker hati akibat Hepatitis B yang kronis.

Ilustrasi: penanganan bagi penderita Hepatitis B di Korea Selatan (sumber: hepatitisbfree.org)

Ilustrasi: penanganan bagi penderita Hepatitis B di Korea Selatan (sumber: hepatitisbfree.org)

Kasus yang dialami Min hanyalah satu dari banyaknya kasus yang sudah dilaporkan di Asia. Diketahui, wilayah Asia-Pasifik merupakan rumah bagi lebih dari setengah populasi global yang menyumbang lebih dari 62% kematian di seluruh dunia akibat penyakit hati pada tahun 2015. Berdasarkan laporan United States National Centre for Biotechnology Information, infeksi virus Hepatitis B kronis menyebabkan lebih dari setengah kematian tersebut. Kasus itu belum termasuk pasien yang mengalami Hepatitis B tidak terdiagnosis.

Banyak kasus kematian pasien akibat Hepatitis B tidak hanya karena sebagian pasien tidak merasakan gejalanya, tetapi juga kurang kesadaran mengenai adanya penyakit ini. Sebuah studi yang dilakukan WHO (World Health Organization) menunjukkan hanya 10% pasien dengan Hepatitis B mendapatkan pengobatan yang baik. Hal ini karena orang-orang tersebut sadar bahwa mereka memilikinya dan sering melakukan medical check up. Tak hanya itu, beberapa pasien merasa penting untuk mengobati penyakitnya supaya risiko komplikasi yang mengancam jiwa bisa diturunkan.

Baca juga:  Perlu Anda Ketahui, Stres Bisa Sebabkan Kulit Rusak

Untuk memberantas Hepatitis B, Korea Selatan menjalankan pedoman WHO. Penyakit ini tetap menjadi perhatian utama dalam dunia kesehatan di negara ini. Namun, pada tahun 2019, hanya 262.000 pasien Hepatitis B di Negeri Ginseng ini yang menerima pengobatan. Hal ini diungkapkan Korean Association pada sebuah studi tentang kesehatan hati. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kasus Hepatitis di Indonesia

Ilustrasi: vaksinasi Hepatitis B di Indonesia (sumber: Media Indonesia)

Ilustrasi: vaksinasi Hepatitis B di Indonesia (sumber: Media Indonesia)

Dilansir dari kemenkes.go.id, tampaknya pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah sadar dengan bahayanya penyakit ini, dibuktikan dengan adanya upaya pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B pada bayi lahir di tahun 1997. Ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk menghadapi penyakit tersebut, karena di masa itu, Indonesia termasuk salah satu negara endemis tinggi hepatitis.

Pengendalian Hepatitis B lantas dikembangkan pada tahun 2014, tidak hanya untuk bayi, tetapi juga ibu hamil. Pada tahun tersebut, dilakukan pilot project deteksi dini Hepatitis B (DDHB) pada ibu hamil di Jakarta dan dilaksanakan di beberapa provinsi lainnya satu tahun kemudian.

Baca juga:  Acne Solution, Produk Pond’s Untuk Kulit Berminyak Dan Berjerawat

Pada tahun 2016, DDHB lantas dilaksanakan secara nasional. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui status Hepatitis B. Jika hasil pemeriksaan wanita hamil tersebut reaktif, maka dilakukan pemantauan hingga bersalin. Anak yang baru lahir dari ibu dengan status Hepatitis B reaktif akan diberikan HBO (dosis lahir) dan HBIG sebelum 24 jam. Melaksanakan DDHB berarti telah melakukan upaya deteksi dini untuk menyelamatkan anak dari Hepatitis B.

Selain itu, saat ini di Indonesia sudah banyak klinik dan fasilitas kesehatan yang menyediakan vaksin Hepatitis B. Dilansir dari Tribun News, vaksin Hepatitis B memiliki efektifitas 98%-100% untuk mencegah dan membantu imun tubuh terhadap virus tersebut. Khusus untuk orang yang sudah terjangkit Hepatitis B, bisa melakukan vaksin dini sebanyak tiga kali dosis saat perawatan berlangsung. Ini bertujuan untuk mencegah virus menyerang organ tubuh lainnya.

[1] Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Hepatitis Virus.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*