Apakah Aspirin Bisa Menjadi Obat Kanker Payudara?

Aspirin (sumber: scitechdaily.com) Aspirin (sumber: scitechdaily.com)

Aspirin merupakan salah satu jenis obat yang mudah ditemukan di apotek dan biasanya dijual dengan resep dokter. Harganya yang relatif terjangkau dengan khasiat luar biasa, membuat obat tersebut terbilang laris. Selain itu, baru-baru ini juga muncul kabar bahwa aspirin bisa menjadi obat kanker payudara, apakah betul?

Aspirin Turunkan Risiko Kanker Payudara

Aspirin adalah salah satu jenis obat yang biasa dipakai untuk terapi antiplatelet standar untuk mengobati penyakit jantung dan masalah pembuluh darah.[1] Selain itu, dilansir dari Harvard Health Publishing, aspirin memiliki manfaat sebagai obat antiinflamasi untuk menghilangkan rasa sakit, menurunkan demam, dan mencegah serangan stroke.

Dilansir dari berbagai sumber, selama 20 tahun terakhir, daftar manfaat potensial aspirin telah berkembang dan sebuah studi menunjukkan bahwa aspirin dapat menurunkan risiko kanker tertentu, termasuk kanker usus besar, ovarium, hati, dan prostat. Bukti bahwa aspirin dapat mengurangi risiko kanker usus besar begitu kuat.

Beberapa ahli merekomendasikan penggunaan aspirin setiap hari untuk kelompok orang tertentu dengan risiko kanker usus besar tinggi, termasuk pada orang dewasa usia 50 hingga 59 tahun, dengan tambahan risiko kardiovaskular atau penyakit jantung, risiko stroke, dan mereka yang memiliki kecenderungan bawaan terhadap polip.

Baca juga:  Teori Kecerdasan Triarkis, Kecerdasan Sukses Ala Robert J. Sternberg

Ada juga penelitian yang meneliti hubungan aspirin dengan penurunan risiko kanker payudara. Dalam studi tersebut, ada sekitar 57.000 wanita yang ikut sebagai pesertanya. Mereka diminta untuk mengonsumsi aspirin dengan dosis tertentu untuk mengetahui apakah obat dapat menurunkan risiko kanker payudara atau tidak.

Pita merah muda simbol kanker payudara (sumber: aicr.org)

Pita merah muda simbol kanker payudara (sumber: aicr.org)

Hasil uji coba tersebut terlihat setelah 8 tahun kemudian. Sekitar 3% dari 57.000 wanita dinyatakan mengidap kanker payudara dan 93% lainnya tidak. Para peserta yang mengonsumsi aspirin dosis rendah, yakni sebanyak 81 mg selama 3 hari dalam seminggu, memiliki risiko kanker payudara lebih rendah dibandingkan yang tidak mengonsumsi sama sekali.

Pemakaian aspirin dosis rendah secara teratur dikaitkan dengan risiko kanker payudara 16% lebih rendah dengan catatan kanker tersebut disebabkan oleh faktor selain hormon. Penurunan risiko kanker payudara bisa lebih besar hingga sekitar 20% untuk jenis kanker yang dipicu oleh hormon atau biasa disebut dengan HR positif/HER2 negatif.

Pada penelitian lainnya, juga ditemukan hasil yang cukup membuat orang percaya bahwa aspirin bisa dijadikan sebagai obat untuk menurunkan risiko kanker payudara. Melibatkan sekitar 850.000 orang wanita, studi menemukan bahwa lamanya pemakaian aspirin berdampak pada tingkat risiko kanker payudara.

Baca juga:  Minum Folavit Saat Haid, Apakah Aman?

Dalam percobaan tersebut, ditemukan para peserta bisa memiliki sekitar risiko 14% lebih rendah terkena kanker payudara setelah 5 tahun mengonsumsi aspirin, 27% lebih rendah setelah mengonsumsi aspirin selama 10 tahun, dan 46% lebih rendah setelah mengonsumsi aspirin selama 20 tahun.

Efek Samping Aspirin untuk Kanker Payudara

Butiran pil obat (sumber: sciencemag.com)

Butiran pil obat (sumber: sciencemag.com)

Memiliki sifat anti-tumor dan kanker, aspirin bekerja dengan cara menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan oleh kanker payudara untuk berkembang. Sehingga, obat tersebut bisa menekan perkembangan kanker payudara dan mengurangi risiko terjadinya kanker.

Meskipun terbilang baik untuk menurunkan risiko kanker payudara, obat ini juga memiliki efek samping. Aspirin bisa menyebabkan tukak gastrointestinal, perdarahan, dan reaksi alergi. Obat juga bisa menyebabkan gangguan penyakit langka yang serius seperti sindrom Reye yang dapat membahayakan otak, hati, dan organ lainnya pada anak-anak dan remaja. Ini juga alasan mengapa aspirin hanya diresepkan pada orang dewasa.

Baca juga:  Kurang Percaya Diri Gara-Gara Gusi Hitam? Ini Cara Alami Terbaru Memerahkan Gusi

Perlu Anda ketahui juga, tidak semua wanita bisa mengonsumsi aspirin untuk menurunkan risiko kanker payudara. Untuk penyakit tertentu saja, seperti kardiovaskular dan stroke, Anda harus mendapatkan persetujuan dari dokter, apalagi untuk kasus kanker yang terbilang tidak sederhana.

Selain itu, aspirin juga tidak direkomendasikan untuk wanita hamil. Pemakaian aspirin pada ibu hamil dapat berisiko gangguan pada perkembangan janin seperti abrupsio plasenta atau lepasnya plasenta. Aspirin yang dikonsumsi oleh orang hamil pada trimester terakhir juga berisiko menyebabkan gangguan persalinan seperti waktu yang memanjang atau mundur. Aspirin pun bisa meningkatkan risiko gangguan jantung dan paru pada bayi yang baru lahir.

Jika Anda ingin mencoba memakai aspirin untuk menurunkan risiko kanker payudara, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter. Periksakan diri Anda apakah Anda benar-benar membutuhkan aspirin atau tidak. Ini juga penting untuk memperkirakan dosis obat yang tepat untuk masalah yang Anda hadapi.

[1] Yunita, Ema P., Bambang S. Zulkarnain, Muhammad Aminuddin. 2015. Resistensi Aspirin pada Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan Hipertensi. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Universitas Airlangga, Vol. 4(1): 28-38.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*