Wajib Tahu! Ini Pentingnya Pemberian Vaksin Tetanus untuk Ibu Hamil
Vaksinasi perlu dilakukan oleh kalangan wanita sejak sebelum menikah hingga nanti ketika hamil. Ada banyak jenis imunisasi yang perlu Anda peroleh, salah satunya yang diwajibkan oleh pemerintah adalah vaksin tetanus untuk ibu hamil.
Imunisasi Tetanus toxoid (TT) adalah proses membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadapinfeksi tetanus. Vaksin Tetanus adalah suatu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan, kemudiandimurnikan. Pemberian dilakukan pada masa kehamilan memasuki trimester I s/d trimester III.
Ibu hamil pentingmendapat imunisasi untuk mencegahterjadi Tetanus pada ibu dan bayinya.Karena dengan melaksanakan imunisasipada ibu saat kehamilan, molekulimunoglobulinakan disalurkan dari ibukepada bayi melalui plasenta sebagaikekebalan pasif untuk bayi. Kekebalan yang disalurkan ibukepada bayi tersebut dapat menjadiproteksi untuk bayi terhadap stressor (persalinan yang tidak steril danperawatan tali pusat yang tidak bersih)yang dapat menyebabkantetanusNeonatorum(TN).[1]
Imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali karena imunisasi yang pertama belum memberi kekebalan pada bayi baru lahir terhadap penyakit tetanus sehingga bayi berusia kurang dari 1 bulan dapat terkena tetanus melalui luka tali pusat.[2]
Imunisasi TT umumnya diberikan kepada ibu hamil, calon pengantin wanita, dan anak perempuan kelas 6 sekolah dasar. Imunisasi TT diberikan di posyandu, pondok bersalin, puskesmas, rumah sakit, praktik dokter, atau bidan swasta.[3] Imunisasi TT sebaiknya diberikan pada ibu hamil dengan umur kehamilan antara tiga bulan sampai satu bulan sebelum melahirkan dengan jarak minimal empat minggu.
Jadwal Pemberian Vaksin TT untuk Ibu yang Belum Pernah Imunisasi
| Pemberian | Selang Waktu Minimal |
| TT 1 | Pada kunjungan pertama (sedini mungkin pada kehamilan) |
| TT 2 | 4 minggu setelah TT1 (pada kehamilan) |
| TT 3 | 6 bulan setelah TT2 (pada kehamilan, jika selang waktu minimal terpenuhi) |
| TT 4 | 1 tahun setelah TT3 |
| TT 5 | 1 tahun setelah TT4 |
Catatan: ibu yang belum pernah imunisasi DPT/TT/Td atau tidak tahu status imunisasinya, ibu hamil harus untuk melengkapi imunisasinya sampai TT 5, tidak harus menunggu kehamilan berikutnya.[4]
Jadwal Pemberian Vaksin TT untuk Ibu yang Sudah Pernah Diimunisasi
| Pernah (kali) | Interval (Minimal) |
| 1 kali | TT2 dengan interval 4 minggu setelah TT1 (pada kehamilan) |
| 2 kali | TT3 dengan interval 6 bulan setelah TT2 (pada kehamilan, jika selang waktu minimal memenuhi) |
| 3 kali | TT4 dengan interval 1 tahun setelah TT3 |
| 4 kali | TT5 dengan interval 1 tahun setelah TT4 |
| 5 kali | Tidak perlu lagi dilakukan imunisasi[5] |
Efek Samping Vaksin Tetanus
Vaksin tetanus dibuat dari toksoidformol tetanus yang mengandung tidak kurang dari 1000 Limes flocculationis (Lf) per mg nitrogen protein dan zat pembawa mineral aluminium hidroksida hidrat, aluminium fosfat, atau kalsium fosfat dalam larutan natrium klorida 0,9% atau larutan isotonik lain yang sesuai dengan darah.[6]
Dilansir dari Halodoc, setiap vaksinasi biasanya berpotensi menimbulkan efek samping setelahnya. Demikian pula dengan suntik tetanus yang dilakukan pada ibu hamil. Beberapa orang mungkin akan merasakan sejumlah efek samping setelah vaksin tetanus, seperti mengalami nyeri, kemerahan, bengkak di area suntikan, demam, serta sakit kepala. Apabila sejumlah komplikasi muncul, Anda tak perlu khawatir karena hal itu kabarnya akan hilang dengan sendirinya.
Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, suntikan tetanus bisa memicu munculnya syok anafilaktik atau reaksi alergi fatal. Untuk meminimalisir terjadinya efek samping yang berbahaya, sebaiknya diskusikan terlebih dulu dengan dokter kandungan jika Anda memiliki riwayat alergi.
[1]Maulida, SW. 2012. Faktor-Faktor Mempengaruhi Cakupan Imunisasi Tetanus Toksoid Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Meutulang Kecamatan Panton Reu Kabupaten Aceh Barat Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 1: 1-9.
[2]Syafrudin& Hamidah. 2007. Kebidanan Komunitas. Monica E &Esty W, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, hlm 173.
[3]Ibid., hlm 174.
[4]Yuliani, DR dkk. 2021. Asuhan Kehamilan. Abdul K, editor. Jakarta: Yayasan Kita Menulis, hlm 261.
[5]Ibid., hlm 262.
[6]Harmita& Maksum R. 2008. Buku Ajar Analisis Hayati. July M, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, hlm 140.



Leave a comment