Diet Jantung Tidak Harus Rendah Lemak
Diet jantung wajib dilakukan pasien yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, untuk mencegah kambuhnya penyakit.[1] Sayangnya, masih ada beberapa orang yang kurang paham dengan aturan diet ini dan salah satunya dengan anggapan bahwa ketika menjalani diet jantung, pasien tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak lemak. Padahal, diet jantung tidak harus rendah lemak.
Bagaimana Pola Diet Jantung?
Dilansir dari Harvard Health Publishing, fokus dari diet jantung bukanlah jumlah lemak pada bahan makanan yang Anda olah atau makan, tetapi pada pola makan yang sehat secara keseluruhan. Bisa dibilang, Anda harus mengubah gaya makan yang sebelumnya hanya fokus dengan satu jenis makanan menjadi memperkaya jenis makanan yang ada, terutama perbanyak makan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Masih dari sumber yang sama, buah-buahan dan sayuran adalah sumber serat dan vitamin yang baik. Anda pun bisa menambahkan sedikit daging, susu, dan telur sebagai sumber protein. Dengan pola makan yang diatur sedemikian rupa, tidak hanya kesehatan jantung Anda yang akan terjaga, tetapi juga kebutuhan nutrisi tubuh dapat terpenuhi.
Dengan pola makan nabati yang berdampingan dengan makanan hewani, secara alami mampu menurunkan kadar lemak pada bahan pangan hewan. Jenis lemak yang diturunkan tentunya adalah lemak jenuh yang terbilang berbahaya bagi kesehatan pasien pengidap gangguan jantung. Selain itu, pola makan seperti ini mampu menurunkan risiko peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan darah tinggi.
Selain untuk penderita penyakit jantung, diet jantung bagus untuk Anda yang sehat dan dalam keadaan normal. Diet jantung diklaim mampu menurunkan risiko penyakit jantung sekaligus mencegah serangan jantung mendadak. Kuncinya, jika Anda sedang dalam kondisi yang sehat, Anda hanya perlu mengatur pola makan sebaik mungkin dan tidak perlu menghindari makanan berlemak, asalkan ada pendamping berupa makanan nabati.
Perbandingan Diet Jantung dan Diet Lainnya
Mulai tahun 1980-an, ketika produsen makanan dan konsumen memangkas jumlah lemak dari produk pangan mereka dan menggantinya dengan karbohidrat olahan, ada sesuatu menarik yang terjadi. Orang-orang kenyang dengan kue rendah lemak, yoghurt rendah lemak, dan pasta rendah lemak, tetapi makanan berkarbohidrat tinggi ini memiliki efek samping yang fatal, yakni membuat orang merasa cepat lapar.
Makanan berkarbohidrat tinggi yang mengandung banyak glukosa mampu memicu pelepasan insulin untuk membersihkan gula dalam darah supaya tidak menyebabkan diabetes. Hal ini juga yang menyebabkan gula darah dalam tubuh terlalu rendah dan membuat Anda merasa lapar setelah beberapa jam makan.
Tentunya, jika Anda menuruti keinginan untuk makan dan terus makan, bisa menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk merespon insulin yang menjadi penyebab diabetes. Jika ini terus berlanjut, obesitas yang dialami pasien akan berdampak buruk bagi kesehatannya dan berujung pada penyakit jantung.
Untuk mengatasi diet yang kurang tepat seperti ini, beberapa dokter menganjurkan diet ultra-rendah lemak yang hanya mencakup 10% kalori dari lemak yang dikonsumsi. Diet ini juga memiliki pantangan tidak boleh mengandung produk hewani, termasuk daging, unggas, susu, telur, dan ikan. Selain itu, diet ini tidak boleh mengandung karbohidrat olahan, termasuk tepung, gula pasir, dan jus buah.
Selama menjalani diet ini, pasien juga tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang mengandung minyak tambahan dan makanan tinggi lemak nabati (alpukat dan kacang-kacangan). Diet ini diklaim dapat mengurangi penumpukan plak kolesterol yang tersumbat di arteri. Sayangnya, tidak semua orang bisa bertahan melakukan diet ultra-rendah lemak hingga dinyatakan benar-benar sehat dari sakit jantung.
Dibandingkan dua jenis diet yang memangkas lemak hewani di atas, diet jantung menjadi sebuah pilihan yang baik. Tidak hanya membebaskan Anda untuk mengonsumsi jenis makanan yang Anda suka, tetapi juga memiliki manfaat yang Anda butuhkan. Hal ini yang membuat pasien lebih betah menjalani diet jantung.
Sebagai tips supaya diet jantung Anda lebih sehat dan efektif, sebaiknya Anda beralih menggunakan minyak zaitun. Hindari minyak kelapa sawit yang terbilang kurang sehat dan diketahui tidak memiliki banyak manfaat dibanding minyak zaitun. Olive oil juga sudah lama dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang berkhasiat untuk menjaga kesehatan jantung.
[1] Hamzah, Diza Fathamira. 2017. Penatalaksanaan Diet Jantung dan Status Gizi Pasien Penderita Hipertensi Komplikasi Penyakit Jantung Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Bandung Medan. Jurnal JUMANTIK Universitas Sains Cut Nyak Dhien Langsa, Vol. 2(1): 71-77.


Leave a comment