Rambut Rontok Berlebihan? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Alopesia Areata
Mengalami kerontokan berlebih hingga menimbulkan kebotakan dini merupakan permasalahan yang cukup mengganggu, terutama bagi wanita. Jika Anda mengalami hal ini, bisa jadi itu gejala awal dari alopecia areata atau dalam bahasa Indonesia adalah alopesia areata. Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya, dan dengan mengetahuinya, Anda bisa memutuskan cara yang tepat untuk mengatasi gangguan kesehatan tersebut.
Apa Itu Alopesia Areata?
Alopesia areata adalah suatu penyakit autoimun bersifat kronis yang menyebabkan kebotakan tanpa disertai pembentukan jaringan parut.[1] Penyakit ini menyerang folikel rambut dan kadang-kadang kuku.
Dilansir dari Harvard Health Publishing, alopecia areata (AA) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut, yang mengakibatkan kerontokan rambut. AA dapat mempengaruhi kulit kepala, alis, bulu mata, atau di mana saja rambut tumbuh di tubuh. Pola kebotakan dapat berbentuk patchy (setempat), ophiasis, ophiasis inversa (sisapho), retikularis, atau difus. Alopecia areata sering terjadi dan dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Penyebab Alopesia Areata
Faktor paling umum yang menyebabkan AA adalah gangguan sistem imun. Sistem kekebalan melindungi tubuh dari penyerbu asing seperti bakteri atau alergen. Ketika sistem kekebalan tidak bekerja sebagaimana mestinya, bakteri atau alergen dapat menyerang sel-sel folikel rambut. Ini membuat rambut memasuki fase istirahat sebelum waktunya yang umum disebut telogen dan menghentikan pertumbuhan rambut.
Pemicu yang tepat untuk gangguan imun ini tidak diketahui pastinya. Namun, beberapa ahli percaya itu bisa dipicu faktor lingkungan, genetika, dan kondisi mental. Tak hanya bisa terjadi pada wanita dan pria, AA bisa diderita oleh orang dalam usia berapapun. Namun, akan lebih umum berkembang di usia 30 tahun ke atas.
Gejala Alopesia Areata
AA biasanya dimulai dengan munculnya kerontokan rambut dalam jumlah kecil. Lama-lama akan menjadi banyak, seiring bertambahnya usia. Jumlah rambut yang rontok akan meningkat drastis dan secara tiba-tiba tanpa adanya kemerahan atau jaringan parut di kulit. Tak seperti kerontokan rambut biasa, pada penderita AA, rambut yang rontok tidak akan tumbuh lagi.
Selain di bagian kepala, perlahan rambut alis dan bulu mata juga akan rontok. Untuk mengetahui apakah Anda mengalami AA, Anda harus pergi ke dokter kulit dan melakukan pemeriksaan menggunakan dermoscopy, yakni mikroskop yang dipakai di atas kulit. Gejala lainnya adalah perubahan tekstur kuku dan ini lebih sering diderita anak-anak. Ada sekitar 10%-20% anak-anak dengan AA mempunyai kuku yang mudah patah dan berwarna pucat.
Termasuk kondisi autoimun, tidak mengherankan bahwa AA juga dapat dikaitkan dengan kondisi lain yang didorong gangguan kekebalan tubuh, seperti vitiligo, anemia hemolitik autoimun, penyakit celiac, lupus, rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, dan penyakit tiroid. Tes darah untuk disfungsi tiroid sering dilakukan untuk menyingkirkan kondisi tiroid yang memengaruhi kerontokan rambut.
AA sering menyebabkan tekanan psikologis dan emosional. Selain itu, AA dapat berdampak negatif pada harga diri penderitanya. Orang dengan AA memiliki peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif.
Prognosis Alopesia Areata
Perkembangan AA tidak dapat diprediksi, tetapi kebanyakan orang dengan AA bisa memiliki rambut lagi dalam beberapa tahun setelah pengobatan AA. Pertumbuhan rambut kembali kemungkinan besar terjadi pada pasien dengan kerontokan rambut yang lebih ringan. Subtipe AA juga berkontribusi pada prognosis. Risiko perkembangan dari alopecia areata terbatas menjadi kerontokan rambut kulit kepala total (alopecia totalis) atau kerontokan rambut seluruh tubuh (alopecia universalis) adalah sekitar 5% hingga 10%.
Indikator yang paling penting untuk prognosis adalah tingkat kerontokan rambut dan usia saat AA dimulai. Orang yang mengembangkan AA pada usia yang lebih muda biasanya memiliki hasil terburuk. Subtipe AA tertentu mungkin juga kurang responsif terhadap pilihan pengobatan.
Cara Mengatasi Alopesia Areata
Sebelum perawatan dimulai, penting untuk memiliki harapan yang realistis, dan mengetahui bahwa saat ini tidak ada obat untuk AA. Tujuan perawatan AA adalah untuk menekan kerontokan dan mendorong pertumbuhan rambut kembali. Sifat AA yang tidak dapat diprediksi, sehingga kekambuhan dapat terjadi, dengan hanya 30% pasien yang mengalami remisi jangka panjang.
Pilihan pengobatan pertama untuk pasien dengan AA terbatas dan tidak merata adalah steroid topikal (digunakan di rumah oleh pasien) atau steroid injeksi lokal (diterapkan oleh dokter). Keunggulan treatment ini adalah efek samping yang minimal, kemudahan aplikasi, dan respons yang sangat baik di sebagian besar orang dengan AA.
Kadang-kadang, obat iritasi topikal tertentu juga perlu dioleskan ke kulit kepala untuk mengatur ulang proses autoimun dan menumbuhkan rambut kembali. Untuk obat seperti ini, biasanya mengandung asam squaric atau anthralin.
Untuk alopecia yang berkembang cepat atau lebih luas, steroid sistemik atau imunosupresan lainnya dapat digunakan. Baru-baru ini, kelas obat yang disebut inhibitor JAK telah menunjukkan harapan untuk menyembuhkan AA, tetapi ada tingkat kekambuhan yang tinggi jika pengobatan dihentikan.
[1] Hariani, Eva & Nelva K. Jusuf. 2017. Pengobatan Alopesia Areata Berbasis Bukti. Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Vol. 29(2):126-134.


Leave a comment