Bagaimana Suatu Produk Bisa Dikatakan Sebagai Susu?

susu, standar, identitas, produk, kandungan, gizi, nutrisi, kental, manis, almond, rasa, putih, warna, coklat, karamel, taro, stroberi, pisang, anak-anak, non-dairy, indonesia, gula, bahan, utama, sapi Produk susu

Sebagian besar orang jika mendengar kata susu, mungkin sudah terbayang seperti apa produknya. Susu identik dengan warna putih dengan rasa sedikit manis. Belum lagi ada susu dengan rasa coklat, stroberi, mocca, taro, karamel, pisang, dan lain-lain. Tetapi, apa sebenarnya standar produk itu bisa dikatakan sebagai susu?

Jika Anda menanyakan tentang apa itu susu, bagaimana standar suatu produk dikatakan sebagai susu, itu tergantung kepada siapa Anda bertanya. Pemilik peternakan sapi akan mengatakan apabila susu itu merupakan hasil perahan dari sapi. Sementara itu, produsen produk non-susu atau non-dairy akan mengatakan bahwa susu itu merupakan susu kedelai atau almond. Produsen non-susu bisa mengatakan itu karena pada label sudah jelas tertera kata ‘susu’, sehingga tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

Perdebatan mengenai susu telah terjadi selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, Komisioner FDA mengumumkan bahwa pihaknya akan berfokus kepada pertanyaan, ‘apa itu susu’. Pertanyaan itu mengarah kepada bagaimana standar identitas dari susu bisa diinterpretasikan.

FDA telah mengeluarkan beberapa standar yang bisa menentukan produk apakah yang harus diberi label ‘dairy product’, dan kini organisasi itu sudah memodernisasikan standar yang mereka tetapkan. Tujuan ditetapkannya standar itu adalah untuk menentukan bagaimana produk harus dibuat/diproduksi. Dapat diambil contoh, membutuhkan berapa banyak tomat untuk membuat sebuah produk yang dinamakan saus tomat?

Salah satu standar yang dibuat oleh FDA menentukan bagaimana sebuah produk dapat disebut dengan susu. Ada beberapa referensi mengenai standar identitas untuk susu yaitu sesuatu yang berasal dari hewan menyusui. Padahal, menurut Komisioner FDA, Scott Gottlieb, susu almond bukanlah berasal dari hewan menyusui sehingga tidak mengandung laktat.

Baca juga:  Cara Pakai Red Jelly Flawless Glow MS Glow untuk Kulit Wajah yang Sehat & Glowing

Pada saat rapat, Gotllieb mengatakan bahwa pihaknya mungkin saja tidak bisa memaksakan sebuah standar untuk identitas produk. Dan, sebagai hasilnya, untuk lebih mempertegas identitas suatu produk, FDA masih terus menerima pendapat, saran, dalam hal standar identitas.

Gottlieb memberi peringatan bahwa mungkin saja akan ada konsekuensi kesehatan jika konsumen bingung dengan label susu non-dairy. Ia mengutip laporan kasus seorang balita yang terkena rakhitis setelah diberi susu kedelai, yang ternyata susu itu tidak mengandung vitamin D untuk kesehatan tulang. Untuk menangani kasus itu, Gotllieb melakukan pengamatan terhadap komentar-komentar yang beredar selama sekitar satu tahun demi penegakan standar identitas. Hal itu karena komentar atau pendapat kuat bisa datang dari adanya dua sisi perdebatan.

Sementara itu, penjualan susu non-dairy meningkat sebesar 61 persen dari tahun 2012 hingga 2017. Di lain sisi, keseluruhan penjualan susu perah turun sebesar 15 persen pada periode yang sama.

Sudut Pandang Dari Industri Susu

susu, standar, identitas, produk, kandungan, gizi, nutrisi, kental, manis, almond, rasa, putih, warna, coklat, karamel, taro, stroberi, pisang, anak-anak, non-dairy, indonesia, gula, bahan, utama, sapi

Produk susu dari peternakan sapi

Seorang peternak sapi perah di Green Bay, Brody Stapel, berpendapat bahwa susu yang dihasilkan dari peternakan telah lebih dulu ada daripada susu kedelai atau almond. Meskipun demikian, susu kedelai dan almond telah berhasil menjadikan reputasi susu menjadi lebih baik.

Baca juga:  Kemasan Baru Cukup Elegan, Satu Paket Cream Natural Skin Dibanderol Rp200 Ribuan

Untuk standar identitas susu kedelai dan almond, Stapel mengatakan bahwa minuman itu seharusnya bisa berdiri sendiri tanpa harus membawa nama susu sapi dalam label produknya. Standar identitas seharusnya sudah bisa diberlakukan. Hal itu karena tidak sedikit masyarakat yang masih bingung mengenai standar susu atau label makanan yang lain.

Sudut Pandang Dari Industri Non-Dairy

Produsen yang berkecimpung dalam bidang non-dairy mengatakan bahwa pihaknya tidak merasa bingung. Menurut Jessica Almy, direktur di Good Food Institute (sebuah perusahaan non-profit) mengatakan bahwa ketika Anda mengatakan susu kedelai atau almond, konsumen tahu apa yang seharusnya dibeli.

Pihak perusahaan sudah meminta FDA untuk membuat regulasi untuk susu berbasis tanaman yang mengatakan bahwa produk itu boleh memakai nama susu sehingga konsumen tidak perlu merasa bingung.

Menurut Almy, hal itu bukan tentang seseorang yang lebih memilih satu produk ini dibanding produk lainnya. Tetapi, lebih kepada mayoritas orang yang meminum susu berbasis tumbuhan juga biasanya minum susu pada umumnya (regular dairy).

Dairy vs Non-Dairy

susu, standar, identitas, produk, kandungan, gizi, nutrisi, kental, manis, almond, rasa, putih, warna, coklat, karamel, taro, stroberi, pisang, anak-anak, non-dairy, indonesia, gula, bahan, utama, sapi

Produk susu non dairy dari kedelai (sumber: healthline.com)

Erin Morse, seorang kepala klinik diet di Los Angeles, berpendapat bahwa mungkin masyarakat tidak bingung tentang susu kedelai ternyata berbeda dengan susu sapi, akan tetapi mereka bingung mengenai kandungan nutrisinya.

Sebagian besar orang berpikir bahwa susu berbasis tumbuhan memiliki nutrisi sebanyak susu sapi. Morse berpendapat bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Kelapa, oat, beras, dan susu almond biasanya memiliki kandungan protein sebesar nol hingga satu gram per cangkir. Sedangkan, susu sapi biasa dan susu kedelai mengandung protein sebanyak 8 gram.

Baca juga:  Pereda Nyeri, Apakah Semua Obat Asetaminofen Aman untuk Ibu Hamil?

Morse memberikan tips bagi konsumen yang ingin membeli susu nabati. Ia memberi saran untuk memerhatikan kandungan kalsiumnya. Pastikan dalam sebuah produk susu bisa memberikan sekitar 30 persen kebutuhan kalsium harian. Untuk konsumen vegan (vegetarian), penting untuk mencari kandungan vitamin B12 yang ada pada produk non-dairy.

Ia juga memperingatkan kepada konsumen untuk kandungan gula tambahan yang mungkin ditambahkan ke dalam minuman non-dairy. Terlebih, sebaiknya hindari produk yang mencantumkan gula sebagai salah satu dari bahan utama yang digunakan dalam sebuah produk.

Sementara itu, berkaitan dengan standar identitas susu, di Indonesia, pada awal Juli 2018, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menegaskan bahwa susu kental manis tidak bisa menggantikan susu sebagai penambah gizi.

Susu kental manis memiliki kadar lemak susu dan protein yang berbeda dari susu sapi, sehingga tidak bisa dianggap sebagai pengganti susu sapi. Untuk penggunaannya, susu kental manis dapat digunakan sebagai toping dan pencampur makanan atau minuman seperti pada roti, kopi, teh, coklat, dan lain-lain. Oleh karena itu, susu kental manis tidak dianjurkan dikonsumsi dalam jumlah banyak pada bayi atau anak-anak.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*